Minggu, 19 Januari 2014

Menengok Sahabat Nabi

Menengok Sahabat Nabi

“Pada pembahasan sebelumnya, telah kita singgung posisi sahabat Nabi saaw. Sekali lagi ingin kami sebutkan, bahwa, mengetahui sahabat secara jelas, akan sangat membantu kita dalam kritik selanjutnya. Tidak diragunakan lagi, bahwa sahabat adalah orang-orang yang senantiasa memiliki maqam istimewa dalam agama Islam. Mereka adalah orang-orang awal yang menjadi pembela Islam, orang-orang yang hadir dalam peperangan sepanjang sejarah penegakan fondasi islam. Orang-orang yang berdiri di samping Rasul dengan segenap harta, daya dan mempertaruhkan nyawa mereka. Yang menjadi perbincangan antar golongan selanjutnya adalah,  apakah sahabat seluruhnya adalah jauh dari dosa, tidak berbuat ma’siat yang besar ataupun yang kecil, yang mulia dan yang tidak sepanjang umurnya? Atau seluruh sahabat otomatis karena kedekatan jarak dan pergaulan dengan rasul, telah menjadi manifestasi Rasul. Ataukah itu semua tergantung wi’ah, qabuliyyat dan isti’dadiyat mereka terhadap pengajaran, dan hikmah kenabian Rasulullah saaw.”
Pada pembahasan sebelumnya, telah kita singgung posisi sahabat Nabi saaw. Sekali lagi ingin kami sebutkan, bahwa, mengetahui sahabat secara jelas, akan sangat membantu kita dalam kritik selanjutnya. Tidak diragunakan lagi, bahwa sahabat adalah orang-orang yang senantiasa memiliki maqam istimewa dalam agama Islam. Mereka adalah orang-orang awal yang menjadi pembela Islam, orang-orang yang hadir dalam peperangan sepanjang sejarah penegakan fondasi islam. Orang-orang yang berdiri di samping Rasul dengan segenap harta, daya dan mempertaruhkan nyawa mereka.
Yang menjadi perbincangan antar golongan selanjutnya adalah,  apakah sahabat seluruhnya adalah jauh dari dosa, tidak berbuat ma’siat yang besar ataupun yang kecil, yang mulia dan yang tidak sepanjang umurnya? Atau seluruh sahabat otomatis karena kedekatan jarak dan pergaulan dengan rasul, telah menjadi manifestasi Rasul. Ataukah itu semua tergantung wi’ah, qabuliyyat dan isti’dadiyat mereka terhadap pengajaran, dan hikmah kenabian Rasulullah saaw.
Ada dua komentar untuk pandangan di atas, Pertama: seluruh sahabat karena kedekatan dan tenggelamnya mereka dalam cinta dan perkhidmatan kepada Rasulullah saaw. maka secara otomatis rahmat dan kasih sayang Allah swt. menjadikan mereka seluruhnya adil. Penganut pandangan ini mengatakan bahwa para sahabat adalah hukum syar’i sebagaimana Rasulullah saaw. Pandangan kedua: penerimaan sahabat atas didikan dan pengajaran sekaligus menyerap hikmah-hikmah kenabian, sangat tergantung pada potensidan kemampuan penerimaan sahabat.
Sahabat terbagai dalam kelompok besar menurut penganut pandangan ini. Sebagian ada yang sampai kepada penerimaan yang sempurna, ada yang hanya sebagian, dan ada yang tidak menerima kecuali sangat sedikit dari hikmah-hikmah kenabian. Golongan ini mengatakan bahwa, sahabat harus dipilah dan pilih, tidak bisa dikategorikan sama. Dan karenanya, mereka dengan Rasul tidak boleh disamakan dalam posisi syar’i.
Siapakah sahabat Nabi?
Menurut Kamus
Al-Ashhab, ash-Shahabah, Shahaba, Yashhubu, Shuhbatan, Shahabatan, Shahibun, artinya: teman bergaul, sahabat, teman duduk, penolong pengikut. As-Shahib artinya kawan bergaul, pemberi kritik, teman duduk, pengikut, teman atau orang yang melakukan atau menjaga sesuatu. Kata ini juga bisa diartikan sebagai orang yang mengikuti suatu paham atau mazhab tertentu. Misalnya, kita bisa bisa mengatakan: pengikut Imam Ja’far, pengikut Imam Syafi’I, pengikut Imam Malik dan lain-lain. Dapat juga kita menyatakannya seperti dalam frasa ishthahaba al-qaum, yang artinya, mereka saling bersahabat satu sama lain, atau ishthahaba al-bar, artinya, menyelamatkan unta (lih. Lisan-al-Arab Ibn Manzhur 1/915).
Menurut Peristilahan al-Qur’an
Kata as-Shuhbah – persahabatan- dapat diterapkan pada hubungan: antara seorang mukmin dengan mukmin yang lain (Kahfi ayat 6), antara seorang anak dengan kedua orang tuanya yang berbada keyakinan(Lukman ayat 15), antara dua orang yang sama-sama melakukan perjalanan(an-Nisa ayat 36), antara tabi (pengikut) dengan matbu’ (yang mengikuti) (at-Taubah ayat 40), antara orang mukmin dengan orang kafir (al-Kahfi ayat 34 dan 37), antara orang kafir dengan orang kafir lainnya (al-Qamar ayat 29), antara seorang Nabi dengan kaumnya yang kafir yang berusaha menghalangi dari kebaikan dan mengembalikannya pada kesesatan (an-Najm ayat 2, Saba ayat 41) lihat juga Tafsir Ibn Katsir untuk masing-masing ayat di atas.
Ahlul Sunnah wal Jam’ah (selanjutnya kita sebut; Sunni)  bersepakat dalam mendefenisikan sahabat dengan keadilan mereka (sahabat). Pendapat mereka antara lain:
- Sa’id Bin Musayyab : Sahabat, adalah mereka yang berjuang bersaama Rasulullah selama setahun atau dua tahun dan berperang bersama Rasul sekalil atau dua kali.
- Al-Waqidi : Kami melihat, para ulama mengatakan, mereka  (sahabat Rasulullah) adalah siapa saja yang melihat Rasul, mengenal dan beriman kepada beliau, menerima dan ridha terhadap urusan-urusan agama walaupun sebentar.
- Ahmad bin Hanbal : Siapa saja yang bersama dengan Rasul selama sebulan, atau sehari, atau satu jam atau hanya melihat beliau saja, maka mereka adalah sahabat Rasulullah saaw.
- Bukhari : barang siapa yang bersama Rasulullah atau belihat beliau dan dia dalam keadaan Islam, maka dia adalah Rahabat Rasulullah saaw.
Al-Qawali menambahkan, kebersamaan itu walaupun sejam saja, tapi secara umum kebersamaan itu mempersyaratkan waktu yang lama.Al-Jaziri berkata, mereka adalah yang hadir dalam perang Hunain yang berjumlah dua belas ribu orang, yang ikut dalam perang Tabuk, dan ikut bersama Rasul dalam haji  wada’. Demikianlah pendefenisian sahabat menurut Sunni, walaupun secara Lughawai dan al-’Uruf al-’Am  memliki perbedaan yang jauh. Di mana persahabatan itu mempersyaratkan  kebersamaan dalam waktu yang lama. Jadi tidak bisa dimasukkan dalam defenisi ini, bagi mereka yang bertemu hanya dalam waktu singkat, atau hanya mendengar perkataan atau hanya dengan bercakap-cakap singkat, atau tinggal bersama dalaml waktu yang singkat. Yang mengherankan adalah, bahwa Sunni sudah sampai kepada kesepakatan tentang keadilan sahabat sedangkan mereka masih saling ikhtilaf dalam pendefinisian sahabat?
Apakah Tujuan dari Tinjauan Kehidupan Sahabat?
Sebagian besar ulama Sunni memasukan sahabat Nabi ke dalam wilayah profane sangat holistic, sehingga sering kali kita mendengar pengkafiran, Zindiq, munafik dan pembuat bid’ah bagi mereka yang melanggar secret zona-line­ ini. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Ishabah jilid 1 hal. 17 mengatakan: Ahlu Sunnah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah ‘adil, kecuali dan barang siapa yang menentang ini adalah ahli bid’ah. Al-Khatib berkata: keadilan sahabat dengan legitimasi Allah swt. adalah  sesuatu yang tetap dan telah diketahui. Allah telah memilih mereka (sahabat) dan mengabari tentang kesucian mereka. Kemudian Ibnu Hajar berkata: al-Khatib meriwayatkan dari Abi Zar’ah al-Razi: Kalau kamu melihat seseorang berkata tentang kekurangan (baca:kejelekan) sahabat Rasul, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah zindiq. Karena Rasulullah adalah haq, al-Qur’an dan apa yang datang bersamanya adalah haq. Dan sahabat telah menyampaikan itu semua kepada kita. Orang-orang yang ingin mencemari keyakinan kita tentang itu, adalah mereka yang  ingin menolak kebenaran al-Qur’an dan Sunnah. Maka menolak mereka adalah lebih utama sebab mereka adalah kaum zindiq.
Jawaban atas pernyataan di atas akan kita bahas dalam bab-bab berikutnya. Tapi, terlepas dari itu semua, kritik terhadap akidah dan sepak terjang sahabat bertujuan bukan untuk membatalkan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah, atau ingin menghilangkan keyakinan kaum muslim. Tapi bila ingin mengetahui dan menguji keadilan para sahabat, maka kita harus menguji secara naqidi, untuk mengetahui yang shaleh dan thaleh, untuk kemudian kita ambil dari mereka yang shaleh, agama bima huwa yang diajarkan Rasul dan menolak sebaliknya.
Kesulitan Kritik Objektif
In any case , kritik akan sampai kepada hasil yang diharapkan bila saja, kita mampu melihat secara objektif objek yang kita kritik. Salah satunya adalah melepaskan nilai-nilai yang sudah dari dulu diletakkan para pendahulu kita. Tentu saja harus segera digaris bawahi, bahwa tidak setiap yang old itu begitu saja kita tolak, tapi yang ingin kita lakukan hanya ingin bersikap ilmiah dengan mengolah dan menguji kembali apa-apa yang sudah dianggap paten oleh para pendahulu kita.
Sebagai contoh: Imam Hanbal (lih. Kitab as-Sunnah Ahmad Bin Hanbal hal.50) dan sebaik-baik ummat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar. Kemudian secara berurut, Umar, kemudian Ustman, kemudian Ali -radiyallahu ‘anhum- kemudian para sahabat Muhammad saaw. setelah empat Khulafa ar-Rasyidin. Dia melanjutkan, tak seorang pun boleh membanding-bandingkan mereka, atau mencukupkan satu dari yang lain…..
Imam Asy’ari juga berpendapat bahwa, kita percaya kepada sepuluh ahli surga sebagaimana yang disabdakan Rasul, kita mengikuti mereka dan seluruh sahabat Nabi saaw. dan menerima segala tentang mereka….(lih.al-Ibana hal.40/Maqalat, hal.294).
Cukupkah kita terhadap pernyataan di atas? Sementara sedemikian jelasnya sejarah panjang perjalanan sahabat Rasul yang saling berikhtilaf dan bertentangan dari permasalahan ritual ibadah sampai akidah! Tidakkah para ulama di atas membaca sejarah bahwa sahabat berbeda sampai dengan Rasul sendiri? Tidakkah mereka membaca bahwa sesama sahabat saling menumpahkan  darah! Bagaimana mungkin kita bisa menerima seluruhnya, dan tidak boleh menolak seluruhnya sekaligus zindiq-kafir bila mengambil segolongan dari mereka! Ini sangat bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah an-Nabawiyah sekaligus akal sehat!
Al-Qur’an telah mensifatkan sebagian sahabat dengan fasiq sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang beriman, apabila datang padamu seorang fasiq…..(al-Hujurat:6) dalam hadits, mensifati golongan yang membunuh ‘Ammar Bin Yasir sebagai golongan yang al-Baghiyah. Rasul bersabda: Engkau (‘Ammar) akan dibunuh golongan Baghyah, engkau memanggil mereka ke surga, sedangkan mereka memanggilmu ke neraka (al-Jam’ bain as-Shahihain 2/461).  Sedangkan untuk orang-orang khawarij Rasul menyebut mereka orang-orang yang membunuh golongan yang paling utama dalam kebenaran.
Hadits-hadits seperti ini banyak termuat dalam kitab Shahih  dan Masanid. Apabila berpegang kepada sahabat adalah sebuah kewajiban sedangkan  mempertanyakan ihwal mereka adalah haram, kenapa al-Qur’an dan Rasulullah saaw. mengabarkan kepada kita sifat-sifat seperti di atas. Akal sehat tidak menerima penutupan kebenaran dengan kesalahan, menutupi kebenaran, dan memposisikan sama antara yang benar dan yang salah.
Al-Qur’an dan Keadilan Sahabat
Dalam perang Uhud, ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah terbunuh, banyak di antara sahabat yang kembali lemah imannya, bahkan mengarah ke arah kemurtadan, sehingga turunlah Ayat 144 surah al-Imran “Muhammad itu tidak lain hanyalah  seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika Dia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik kebelakang (murtad)?……
Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini turun untuk peristiwa perang Uhud, untuk sahabat setelah mendengar Rasululllah telah terbunuh (lih. Tafsir Ibnu Katsir 1/409). (lihat juga Zadul Ma’ad Ibnu al-Qayyum al-Jauzi hal.253). Ayat di atas menjelaskan tentang kemungkinan berpaling dan goyahnya keimanan sahabat (hanya setelah mendengar berita bohong terbunuhnya Rasul). Mungkinlah kita menyifati mereka dengan ‘adil mutlak’ kepada yang berpotensi untuk murtad?
Ibnu Katsir menulis tentang sahabat yang meninggalkan Rasul yang sedang khutbah Jum’at hanya karena perdagangan. Dia berkata bahwa Imam Ahmad berkata: Berkata kepada Ibnu Idris dari Hushain bin Salim dari Jabir, ia berkata: Aku sering masuk ke Madinah dan ketika Rasulullah saaw. sedang berkhutbah orang-orang meninggalkan beliau dan tersisa hanya dua belas orang saja,kemudian turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perdagangan (yang menguntungkan) ataupermainan (yang menyenangkan) mereka bubar dan pergi ke sana meninggalkan engkau berdiri (berkutbah)(al-Jumu’ah ayat 11). Kejadian ini juga termuat dalam Shahihain.   (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, ad-Durrul Mantsur Suyuthi hal.220-223, Shahih Bukhari 1/316, Shahih Muslim, 2/590)
Untuk penelitian dan eksplorasi yang mendalam tentang naqd al-Qur’an terhadap sahabat, silahkan anda buka kitab-kitab berikut:
- Tafsir Ibn Katsir 1/421 dan Tafsir at-Tabari 4/155, tafsir surah al-Imran ayat 161.
- Tafsir Ibn katsir 4/209 tafsir surah al-Hujurat ayat 6 dan 2/283-285 tafsir surah al-Anfal ayat 1
Lihat juga tafsir surah al-Imran ayat 103,  al-Ahzab ayat 12-13. at-Taubah 101-102, al-Hujurat 14, at-Taubah ayat 60. dan lain-lain yang tidak memungkinkan kita urai dan tulis satu persatu pada tempat ini.
Al-Sunnah an-Nabawiyah dan Keadilan Sahabat
Al-Qur’an, sebagaimana telah kita urai, melihat sahabat sebagaimana tabi’in, yang di antara mereka ada yang adil dan yang fasiq, yang shaleh dan thaleh dan lain-lain. Sekarang merilah kita menengok sahabat dalam hadits-hadits Nabi saaw.
Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang sahabat-sahabat beliau untuk menyalati mayat seorang sahabat yang lain (lih.Mustadrak al-Hakim 2/127, lihat juga Musnad Ahmad kitab al-jihad 4/114).
Rasulullah berlepas tangan dari Khalid Bin Walid, karena membunuhi Bani Juzaimah yang telah menerima Islam, sebagian yang hidup lalu ditawan, tapi kemudian para tawanan itu pun dibunuh juga. Rasul mengangkat tangan ke langit “Ya Allah, aku berlepas tangan dari yang diperbuat Khalid”  beliau mengatakannya dua kali (lih.Shahih Bukhari, Kitab Maghazi bab Ba’atsa  an-Nabi Khalid Bin al-Walid, hadits 4339).
Rasulullah saaw. melaknat Hakam bin Ash Umayyah bin Abdus-Salam – paman Ustman bin Affan dan ayah Marwan bin Hakam – dan melaknat apa yang terdapat dalam tulang rusuknya (keturunannya). Rasulullah bersabda, “celaka bagi umatku dari apa yang terdapat pada tulang rusuk orang ini (keturunan Hakam bin Ash).” Dalam hadits, Aisyah berkata kepada Marwan Bin Hakam, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah melaknat ayahmu, sedangkan engkau ketika itu berada pada tulang rusuknya.”
Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi saaw. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda, “Takkala aku sedang berdiri, muncullah segerombolan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, “Ayo ” Aku bertanya, “Kemana?” Ia menjawab, “Ke neraka, demi Allah!!” Aku bertanya; “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab; “Mereka berbalik setelah engkau wafat.” Dan yang lain dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata: Nabi bersabda; “Takkala berada di al-Haudh, aku tiba-tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku, yang mengikuti selain diriku. AKu berkata; Ya Rabbi, dari diriku dan umatku? Dan terdengar suara seseorang: Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu.” Dari bab yang sama yang berasal dari Sa’id bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda “Di al-Haudh sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi mereka adalah sahabatku!”. Dan Nabi mendapat jawaban; “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!” Riwayat ini juga disampaikan oleh Sahl bin Sa’d. Bukhari juga meriwayatkan yang berasal dari Ibnu Abbas, Nabi saaw. Bersabda; “Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban: “Mereka tak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.” (lih.Shahih Bukhari jilid 4 bab al-Haudh, akhir bab ar-Ruqab, hal.94 dan jilid 3/30 bab Ghazwah Hudaibiyah).
Muslim juga meriwayatkan, Nabi bersabda; “Sebagian orang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga Haudh, yaitu takkala dengan tiba-tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar-benar akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu” (lih.Shahih Muslim kitab Fadhail hadits 40, lihat juga Musnad Ahmad 1/453, jilid 2/28 dan jilid 5/48).
Sejarah  dan Keadilan Sahabat
Dua uraian sumber hukum terpenting agama Islam, telah kita jelajahi dalam membaca kembali sahabat. Sekarang marilah kita journey ke petak-petak sejarah sahabat Nabi setelah beliau wafat. Mukhtashar Tarikh Dimasyk 8/19, Sirah I’lam an-Nubala’ 3/235,  Tarikh at-Thabari 2/272, Usudul Ghabah 2/95, dan al-Ishabah 5/755.
Kita ambil dari at-Thabari, Malik Bin Nawairah Bin Hamzah al-Ya’rubi sudah Islam dan saudaranya, Rasul menunjuknya sebagai petugas pengumpul shadaqah bani Yarbu’. Setelah Rasul saaw. wafat, meluas kemurtadan di antara kabilah-kabilah. Abu Bakar, mengutus Khalid Bin Walid untuk memandamkan fitnah tersebut, tapi Khalid sangat berlebihan. Khalid membunuh sahabat-sahabat Nabi saaw. termasuk Malik Bin Nawairah, tidak sampai di situ, Khalid kemudian menzinahi istri Malik Bin Nawairah (yakni tanpa menunggu iddahnya).
Abu Bakar dan Umar berbeda keras dalam kasus ini, Umar bersikeras agar Khalid Bin Walid dihukum berat. Umar berkata kepada Khalid “Kamu telah membunuh seorang muslim, lali engkau memperkosa istrinya! Demi Allah, akan kurajam engkau! (lih.Tarikh Ibn Atsir, dan Wafayat al-’A'yan Ibn Khalikan Abu Bakar alih-alih menghukum Khalid, Khalid dia malah diberi gelar saif Allah al-madzlul. Umar, setelah menjabat sebagai khalifah, memecat Khalid dan melantik Abu Ubaidah untuk menggantikan Khalid (lih. Sirah a’lam an-Nubala 3/236).
Sa’ad Bin Ubadah, Hubab bin al-Mundzir bin al-Jamuh al-Anshari, tidak membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Amirul Mukminin Ali as, al-Abbas, ‘Uthbah bin Abi Lahab (juga anggota Bani Hasyim lainnya), Abu Dzar, Salman al-Farisi, al-Miqdad, ‘Ammar bin Yasir, Zubair, Khuzaimah bin Tsabit, ‘Amr bin Waqadah, Ubay bin Ka’ab, al-Bara’ bib ‘Azib. Semuanya pada mulanya menolak membaiat kepada Abu Bakar. Sejarah mencatat, malah sebagian dari mereka, seperti Sa’d bin Ubadah dan Hubab al-Munzdir, malah terbunuh secara rahasia. (lih.Shahih Bukhari dan Muslim, Tarikh at-Tabari, al-’Iqd al-Farid dan al-Kamil Ibn Katsir).
Lihat juga pertengkaran Sayyidah Fathimah az-Zahra, penghulu para wanita seluruh alam, putri belahan jiwa Rasulullah, dengan Abu Bakar. Semua mengetahui pertengkaran tersebut.(lih.Shahih Bukhari 3/36 – 4/105, Muslim 2/72, Musnad Ahmad bin Hanbal 1/6, al-Imamah wa as-Siyasah Ibn Qutaibah, dan Syahr Nahjul Balaghah Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili).
Sebenarnya masih sangat banyak yang telah tercatat dalam sejarah tentang prilaku sahabat, sebagaimana yang dilaporkan Muslim tentang sahabat pada masa Umar Bin Khattab yang menjual Khamar (lih.Shahih Muslim 5/41 bab Tahrim al-Khamer) tidak hanya sebatas itu, sahabat tersebut juga, suka menumpahkan darah orang-orang yang tak berdosa dan para pengumpul Qur’an (lih.Tarikh at-Thabari 3/176).
Aisyah Binti Abi Bakar melaknat Utsman (lih. Tarikh at-Thabari 4/459, an-Nihayah Ibn Atsir 5/80), Mu’awiyah melaknat dan memerintahkan setiap khatib jum’at dan imam shalat untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, dan kedua cucu Rasulullah saaw, al-Hasan dan al-Husain di atas minbar dan dalam qunut shalat. Umar dan Abu Bakar melaknat Sa’id Bin Ubadah ketika ia masih hidup. Dan masih banyak lagi dalam sejarah, para sahabat melaknat sebagian sahabat yang lain dan berlepas diri dari yang lain.
Kesimpulan Bahasan
To make long story short, Sebagaimana yang telah al-Qur’an dan Sunnah telah wajibkan, menghormati sahabat dan memposisikan mereka pada derajat yang tinggi merupakan suatu kelaziman. Tapi selain itu, kedua sumber hukum Islam ini juga memerintahkan kepada kita untuk menilai sesuai dengan kapasitas mereka.
Orang-orang yang dicela al-Qur’an sudah pasti bukan orang adil, orang-orang yang disebut fasiq pasti tidak adil. Orang-orang yang menyepelekan Nabi pasti bukan adil, orang-orang yang dilaknat Nabi saaw. pasti tidak adil, orang-orang yang dicela Nabi saaw. pasti tidak adil. Mereka sebagaimana kamu muslim yang lain, bisa jadi berbuat salah dan benar, di antara mereka ada yang adil sebagimana ada yang tidak. Menghukumi mereka adil secara keseluruhan adalah sangat berseberangan dengan sikap ilmiah dan bertentangan dengan sejarah, dan secara tidak langsung meragukan kebenaran nas. Bahkan syi’ar tersebut terbukti benar-benar bertentangan dengan nas-nas dan hadits Rasulullah saaw. yang jelas. Al-Qur’an mengajarkan kita, wa la tus-alu ‘amma ka nu ya’malun –kalian tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang mereka lakukan- bukan, wa la tas-alu ‘amma kanu ya’malun –janganlah kalian bertanya terhadap apa yang mereka lakukan-

Di subuh sendu..

Ku hayati setiap bait bait ayat.. buatku semakin kerdil di hadapanMu ya Rabb..baru menghayati bacaan Iftitah belum lagi surah & do’a yang lain dah  terasa diri ni  mahu rebah,menggeletar,derai tangis xmampu ku henti..ya Rabbi ya Rabbi ya Rabbi..ku memanggilMu
‘Bismillahirahmani rahim’
Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang
‘Allahu akbar kabiran’
Allah Maha besar, sebesar besarnya
‘walhamdulillahi kasyiran,wasub’hanallahi bukratan waasila’
Dan dengan puji-pujian bagi Allah sebanyak – banyaknya,dan maha Suci Allah siang dan malam.
‘wajjaahtu wajhia llillazi fatara samaawati wal’arda hanifan musliman wama ana minal musyrikin’
Kuhadapkan wajahku, kepada yang menjadikan langit dan bumi  dan kuberserah kepada Allah juga aku bukanlah golongan orang-orang yang menyekutukan Allah.
‘inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi Rabbil alamin’
Sesungguhnya sholatku,ibadatku,hidup dan matiku kuserahkan kepada Allah seru sekalian alam.
‘lasyarikalahu wabizalika umirtu wa ana minal muslimin’
Tidaklah sekali kali aku menyekutukaNya, dan demikianlah aku ditugaskan,maka aku adalah dari golongan  orang orang islam.
Ya! Engkau lah Maha Besar,tiada zat yang menandingi kekuasaanMu. Di setiap kesucian dan keindahan namaMu hanya Kau sahaja yang patut di puji dan disembah tiada yang lain ya Allah. KemurahanMu mencipta alam ini dan seisinya semata  memberi nikmat untuk kami.Maka patutkah saya tidak sujud dan bersyukur kepadaMu??saya hina dihadapanMu,saya malu..Rabb..zat yang maha Agung..Maha Mulia..  Sesungguhnya sholatku,ibadatku,hidup dan matiku kuserahkan kepada Allah  ya..saya milikMu,saya hakMu dariMu saya di datangkan dan padaMu saya di kembalikan. Kusujud hanya padaMu dan itu adalah perintahMu. . hanya keranaMu ya Allah..kumilikMu..
Allahu akbar
Allah Maha besar..
Sub’hana rabbial ‘adzimi wabihamdih..
Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung dengan sifat sifat kepujianNya
Sami’allahu liman hamidah..
Allah mendengar akan orang orang yang memujinNya..
Rabbana lakal hamd..
Ya Tuahan kami!bagiMu segala puji.
Subhana rabbial a’laa wabihamdih..
Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujianNya..
Nampak??setiap pergerakan kita dalam sholat semua untuk memujiNya. Ya Allah..betapa selama ini saya Cuma ‘mengerjakan’ sholat . Betapa egonya saya tidak menghayati,memahami,merasai kehadiranMu..betapa pentingnya dunia buatku sehingga waktu mengabdi kepadaMu sering kutunda ,sering tidak kutepati , terabai,sering kupercepat dan sering lalai mengejar dunia sendiri. Astagfirullah minal khatayaa..
Ingin kutebar kesemua seluruh sekalian alam..adalah mentauhidkanMu lebih indah dari dunia dan seisinya..
Ampunkan hambaMu yang hina ini..berkati ibadahku,rahmati hidupku Rabb,cukupi ‘bekalanku’.semoga keikhlasanku terlakar..Alallah..Engkaulah penilai..

Wasiat Aqidah Imam Syafi’i

Wasiat Aqidah Imam Syafi’i

Wasiat Aqidah Imam Syafi’i

Wasiat Aqidah Imam Syafi’i

Imam Syafi’i begitulah orang-orang menyebut dan mengenal nama ini begitu lekat di dalam hati setelah nama-nama seperti Khulafaur Rasyidin. Namun sangat disayangkan orang-orang mengenal Imam Syafi’i hanya dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih. Padahal beliau adl tokoh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dgn multi keahlian. Karena itu ketika memasuki Baghdad beliau dijuluki Nashirul Hadits . . Imam Adz-Dzahabi menjuluki beliau dgn sebutan Nashirus Sunnah dan salah seorang mujaddid pada abad kedua hijriyah. .
Dalam hal aqidah Imam Syafi’i memiliki wasiat yg sangat berharga. Muhammad bin Ali bin Shabbah Al-Baldani berkata “Inilah wasiat Imam Syafi’i yg diberikan kepada para sahabatnya ‘Hendaklah Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yg berhak disembah selain Allah Yang Maha Satu yg tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah adl hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara satu dgn yg lain. Sesungguhnya shalatku ibadahku hidup dan matiku hanya utk Allah semata Tuhan semesta alam yg tiada bersekutu dgn sesuatu pun. Untuk itulah aku diperintah dan saya termasuk golongan orang yg menyerahkan diri kepadaNya. Sesungguhnya Allah membangkitkan orang dari kubur dan sesungguhnya Surga itu haq Neraka itu haq adzab Neraka itu haq hisab itu haq dan timbangan amal serta jembatan itu haq dan benar adanya. Allah membalas hambaNya sesuai dgn amal perbuatannya. Di atas keyakinan ini aku hidup dan mati dan dibangkitkan lagi Insya Allah. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adl kalam Allah bukan makhluk ciptaanNya. Sesungguhnya Allah di hari akhir nanti akan dilihat oleh orang-orang mukmin dgn mata tak mengenakan busana jelas terang tanpa ada suatu penghalang dan mereka mendengar firmanNya sedangkan Dia berada di atas ‘Arsy. Sesungguhnya takdir baik buruknya adl berasal dari Allah Yang Maha Perkasa dan Agung. Tidak terjadi sesuatu kecuali apa yg Allah kehendaki dan Dia tetapkan dalam qadha’ qadarNya.
Sesungguhnya sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasul ` adl Abu Bakar Umar Utsman dan Ali radhiallahu’anhum. Aku mencintai dan setia kepada mereka dan memohonkan ampun bagi mereka bagi pengikut perang Jamal dan Shiffin baik yg membunuh maupun yg terbunuh dan bagi segenap Nabi. Kami setia kepada pemimpin negara Islam selama mereka mendirikan shalat. Tidak boleh membangkang serta memberontak mereka dgn senjata. Kekhilafahan berada di tangan orang Quraisy. Dan sesungguhnya tiap yg banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun diharamkan. Dan nikah mut’ah adl haram.
Aku berwasiat kepadamu dgn taqwa kepada Allah konsisten dgn sunnah dan atsar dari Rasulullah dan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid’ah dan hwa nfsu (**) . Bertaqwalah kepada Allah sejauh yg engkau mampu. Ikutilah shalat Jum’at jama’ah dan sunnah . Berimanlah dan pelajarilah agama ini. Siapa yg mendatangiku di waktu ajalku tiba maka bimbinglah aku membaca “Laailahaillallah wahdahu lasyarikalahu waanna Muhammadan ‘abduhu warasuluh“.
Di antara yg diriwayatkan Abu Tsaur dan Abu Syu’aib tentang wasiat Imam Syafi’i adalah ‘Aku tidak mengkafirkan seseorang dari ahli tauhid dgn sebuah dosa sekalipun mengerjakan dosa besar aku serahkan mereka kepada Allah Azza Wajalla dan kepada takdir serta iradah-Nya baik atau buruknya dan keduanya adl makhluk diciptakan atas para hamba dari Allah SWT. Siapa yg dikehendaki menjadi kafir kafirlah dia dan siapa yg dikehendakiNya menjadi mukmin mukminlah dia. Tetapi Allah SWT tidak ridha dgn keburukan dan kejahatan dan tidak memerintahkan atau menyukainya. Dia memerintahkan ketaatan mencintai dan meridhainya. Orang yg baik dari umat Muhammad masuk Surga bukan krn kebaikannya . Dan orang jahat masuk Neraka bukan krn kejahatannya semata. Dia menciptakan makhluk berdasarkan keinginan dan kehendakNya maka segala sesuatu dimudahkan bagi orang yg diperuntukkannya sebagaimana yg terdapat dalam hadits. .
Aku mengakui hak salaf yg dipilih oleh Allah SWT utk menyertai NabiNya mengambil keutamaannya. Aku menutup mulut dari apa yg terjadi di antara mereka pertentangan ataupun peperangan baik besar maupun kecil. Aku mendahulukan Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali radhiallahu ‘anhum. Mereka adl Khulafaur Rasyidin. Aku ikat hati dan lisanku bahwa Al-Qur’an adl kalamullah yg diturunkan bukan makhluk yg diciptakan. Sedangkan mempermasalahkan lafazh adl bid’ah begitu pula sikap tawaqquf adl bid’ah. Iman adl ucapan dan amalan yg mengalami pasang surut. .
Kesimpulan wasiat di atas yaitu
    Aqidah Imam Syafi’i adl aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah;
    Sumber aqidah Imam Syafi’i adl Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beliau pernah mengucapkan “Sebuah ucapan seperti apapun tidak akan pasti kecuali dgn Kitabullah atau Sunnah RasulNya `. Dan tiap yg berbicara tidak berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah maka ia adl mengigau . Waallu a’lam.” ;
    Manhaj Imam Syafi’i dalam aqidah menetapkan apa yg ditetapkan oleh Allah dan RasulNya dan menolak apa yg ditolak oleh Allah dan RasulNya. Karena itu beliau menetapkan sifat istiwa’ ru’yatul mukminin lirrabbihim dan lain sebagainya;
    Dalam hal sifat-sifat Allah Imam Syafi’i mengimani makna zhahirnya lafazh tanpa takwil apalagi ta’thil . Beliau berkata “Hadits itu berdasarkan zhahirnya. Dan jika ia mengandung makna lbh dari satu maka makna yg lbh mirip dgn zhahirnya itu yg lbh utama.“. Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah yg harus diimani maka beliau menjawab ‘Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yg telah dikabarkan oleh kitabNya dan dijelaskan oleh NabiNya kepada umatnya. Tidak seorang pun boleh menolaknya setelah hujjah sampai kepadanya krn Al-Qur’an turun dgn membawa nama-nama dan sifat-sifat itu. Maka barangsiapa yg menolaknya setelah tegaknya hujjah ia adl kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah ia adl ma’dzur krn kebodohannya sebab hal itu tidak bisa diketahui dgn akal dan pemikiran. Allah memberitahukan bahwa Dia memiliki sifat “Yadaini” dgn firmanNya “Tetapi kedua tangan Allah terbuka” . Dia memiliki wajah dgn firmanNya “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajahNya” .” .
    Kata-kata “As-Sunnah” dalam ucapan dan wasiat Imam Syafi’i dimaksudkan utk tiga arti. Pertama adl apa saja yg diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah ` berarti lawan dari bid’ah. Kedua adl aqidah shahihah yg disebut juga tauhid . Berarti ilmu tauhid adl bukan ilmu kalam begitu pula sebaliknya. Imam Syafi’i berkata “Siapa yg mendalami ilmu kalam maka seakan-akan ia telah menyelam ke dalam samudera ketika ombaknya sedang menggunung“. . Ketiga As-Sunnah dimaksudkan sebagai sinonim dari hadits yaitu apa yg datang dari Rasulullah ` selain Al-Qur’an.
Ahlus Sunnah disebut juga oleh Imam Syafi’i dgn sebutan Ahlul Hadits. Karena itu beliau juga berwasiat “Ikutilah Ahlul Hadits krn mereka adl manusia yg paling banyak benarnya.” . “Ahli Hadits di tiap zaman adl bagaikan sahabat Nabi `.” . Di antara Ahlul Hadits yg diperintahkan oleh Imam Syafi’i utk diikuti adl Imam Ahmad bin Hanbal murid Imam Syafi’i sendiri yg menurut Imam Nawawi “Imam Ahmad adl imamnya Ashhabul Hadits imam Ahli Hadits.” .

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 21-24 (Pokok Hukum Musrik dan Cara Menjauhinya)

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 21-24 (Pokok Hukum Musrik dan Cara Menjauhinya)

...Membahas hukum dan ciri-ciri orang musyrik tidak bisa dilepaskan dari masalah tauhid. Dalam Al-Quran dari awal sampai akhir dijelaskan dengan terperinci. Hal-hal pokok yang perlu diketahui dan dipahami syirik (yang harus dimulai dari pembahasan tauhid) terkandungan dalam Surat Al-Baqarah ayat 21-24.

“Wahai manusia! Ibadahilah Tuhanmu (Rabbmu) yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa;” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 21)

Siapakah Rabb itu?
Pertama, yang telah menciptakan (membentuk) kamu. Maka kita diciptakan seperti ini tentunya untuk tujuan tertentu. Kedua, yang telah menciptakan (membentuk) orang-orang yang sebelum kamu. Orang-orang sebelum kita salah satunya yang terdekat yaitu ibu bapak kita. Dalam kalimat terakhir ayat ke-21 di atas (agar kamu bertakwa) mengandung arti manusia menjadi orang yang bertakwa merupakan tujuan dibentuk atau diciptakannya manusia itu sendiri. Dalam ayat berikutnya disebutkan,

“ (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu maengetahui;” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 22)

Ketiga, yang menciptakan langit dan bumi. Keempat, yang menurunkan air hujan. Kelima, yang menjadikan air hujan itu menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki untukmu.

Lalu siapa yang dimaksud dengan Rabb itu? Nah, kelima hal di ataslah yang dimaksud Rabb yang sering diartikan Tuhan. Manusia sendiri mengenal Rabbnya hanya sebatas pada pengetahuan yang merujuk pada kelima hal tadi. Dari sinilah sebetulnya hal-hal yang bersifat tahayul muncul, jauh sejak dahulu kala.
Tentunya, di balik penciptaan langit dan bumi pasti ada yang menguasainya. Kalau saja kita mau berpikir (berakal), mana mungkin semua itu diciptakan dan terjadi tanpa ada yang berkehendak dan berkuasa. Jadi Allah Swt. membuat bentuk serupa itu (manusia) semata-mata hanya untuk melaksanakan ibadah hanya kepada-Nya dengan cara-cara yang telah diberi petunjuk (melalui Rasul-Nya) agar manusia tidak terus-menerus menyekutukan Allah.

Pada dua ayat surat Al-Baqarah selanjutnya, Allah Swt. berfirman,

“Dan jika kamu meragukan (Quran) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 23-24)

Oleh sebab itu, Allah Swt. mengutus Rasul untuk memberi petunjuk agar manusia bisa terhindar dari sifat-sifat syirik (musrik) dan melaksanakan ibadah sesuai yang dicontohkan Muhammad Saw. Bahkan Allah Swt. menantang manusia, apakah mereka mampu membuat satu ayat (tandingan) saja kalau memang benar mereka hendak menandingi kekuasaan-Nya.
Di sinilah kita maknai bahwa bertakwa tanpa ibadah adalah suatu hal mustahil, begitu pun ibadah tanpa meyakini keberadaan Rabb. Dengan kata lain, tidak mungkin melakukan ketakwaan tanpa tauhid atau keimanan yang masih terkontaminasi dengan syirik. Dan karena tauhid itu pulalah para rasul diperintahkan untuk memerangi kaumnya hingga mereka meyakininya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Dalam ayat ke-24 tersebut di atas diterangkan bahwa Allah sudah menegaskan tidak ada satu pun mahkluk ciptaannya yang bisa menandingi kekuasaan-Nya. Maka bila tidak meyakini Allah dan rasul-Nya, maka mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah Swt. Mereka pun kemudian menjadi orang musyrik karena mencintai selain Allah. Dalam ayat tersebut diterangkan betapa hinanya manusia serupa itu yang masuk ke neraka dan disamakan dengan batu.
Kembali ke ayat ke-22 pada kalimat karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kamu mengetahui. Dalam hal ini, apabila hamba menyembah selain Allah mereka mesti menyembah salah satu dari kelima hal tersebut di atas dan musyrik yang paling hebat adalah mempertuhankan manusia dengan alasan apa pun.

Inilah yang dimaksud tauhid yang kemudian menjadi ajaran pokok Islam yaitu Asyhadu (Aku bersaksi). Kata-kata Asyhadu di sini maksudnya adalah Asyhadu alla ilmiin (Aku bersaksi berdasarkan ilmu) seperti yang tadi telah diterangkan. Anlaa Ilaaha Illallaah (Tidak ada Tuhan Selain Allah) artinya apabila disembah selain Allah, pastilah makhluk yang akan disembah.
Mengenal Allah tanpa beriman kepada Rasul itu tahayul. Mengapa? Dari mana ia tahu (tentang keimanan kepada Allah) kalau bukan dari Rasul-Nya (kecuali ia hanya bersangka-sangka saja)? Itulah dasar syahadat pertama. Kalimat Asyhadu anlaa Ilaaha Illallaah dilanjutkan dengan lasyarikallahu yang artinya tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah yang kemudian dimaksud dengan larangan jangan musyrik karena mempertuhankan selain Allah hanya akan berarti mempertuhankan makhluk-Nya dengan alasan apa pun.
Syahadat yang kedua berbunyi wa Asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh yang artinya aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Di sini, kita baru akan terbebas dari musyrik jika telah betul-betul meyakini dan mengimani Muhammad Saw. sebagai orang yang menerima, menjelaskan, serta melaksanakan Al-Quran dan hal ini berlaku sampai hari kiamat.
Kesimpulannya, melalui empat ayat surat Al-Baqarah tersebut, kita bisa merangkai berbagai pemahaman tentang kaitan antara tauhid dan musyrik serta diutusnya Rasul Saw. sebagai pemberi petunjuk dan pelaksana Al-Quran yang perlu kita ikuti. Mencari ilmu itu hukumnya wajib karena dengan ilmu suatu kebenaran akan terbuka sehingga kita bisa memilah mana yang harus dijadikan rujukan dan mana yang musti dibuang. Di sini bisa kita lihat betapa
pentingnya menanamkan tauhid dalam diri kita untuk lebih jauh memahami
syirik dan musyrik itu sendiri.

Sabtu, 18 Januari 2014

Kisah Kesabaran Ayah dan Kesucian Ibu Imam Syafi’i


Suatu hari seorang lelaki muda hendak berangkat mengaji, berjalan menyusuri pinggiran sungai. Tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah buah delima yang hanyut. Delima itu tampak matang dan ranum. Warna merah delima itu menggoda kerongkongan pemuda yang bernama Idris As Syafi’i. Tanpa menunggu lama, dengan sebilah tongkat kayu sambil menginjak tepian sungai, ia mencoba meraih delima ranum tersebut. “Hupp….”
Delima itupun sampai dalam genggaman. Dalam kondisi lapar, tanpa pikir panjang ia langsung meraup delima demi mengganjal perutnya yang keroncongan.
Gigitan demi gigitan delima itu dilahap nikmat. Setengah delima telah masuk ke dalam penggilingan usus, barulah ia bertanya dengan dirinya, “Siapakah pemilik delima ini?” Aku yakin buah ini pasti ada pemiliknya, yang kepadanya aku belum meminta ijin untuk memakannya.” Demikian pertanyaan itu menghentikan gigitan yang masih menempel di mulut. “Berarti pula makanan yang masuk kedalam perutku ini tidaklah halal bagiku. Oh Tuhan….Maafkan aku.” Itulah penyesalan yang muncul di dalam hati pemuda Idris.”
Lama dia termenung, teringat ajaran sang guru, bahwa makanan haram yang masuk kedalam badan dan pakaian yang haram yang menutup badan dapat menjadi suatu sebab terhambatnya doa. “Oh Tuhan, ampunilah aku. Bagaimana caraku untuk membersihkan kesalahanku?” Itulah penyesalan yang tiada terbilang memenuhi relung hati sang pemuda beriman, Idris.
Setelah merenung bingung beberapa berselang, akhirnya diperoleh cara untuk menyelesaikannya, “Aku harus mencari pemilik delima, untuk meminta keikhlasan atasnya.” Akhirnya,pemuda IDris menyusuri tepian sungai, berusaha mencari pemilik delima tadi. Delima yang tinggal setengah masih pula di gengang sebagai bukti nanti kalau-kalau sang pemilik meminta kembali.
Cukup panajang ia menyuri sungai itu akhirnya bertemu dengan sebuah perkebunan yang ditumbuhi pohon delima. Memanglah bahwa lokasi kebun itupun menjorok ke sungai. “Dari pohon inilah barangkali delima yang hanyut yang kumakan tadi.” Idris terus mengamati pohon delima yang menempel di dahan-dahan sambil mencocokannya dengan buah delima yang ia makan. Ternyata sama persis.
Setelah ia yakin benar, lantas Idris bertanya untuk mencari pemilik kebun. Bertemulah ia kepada sang pemilik kebun.
Tanpa gusar ia terus berkata kepada orang asing itu, “Maaf pak, saya kesini untuk meminta keikhlasan bapak atas kekhilafan yang telah saya lakukan.” kata Idris membuka pembicaraan.
Lelaki paruh baya yang sudah ditumbuhi uban itu mengerutkan wajah dengan penuh heran. Pemuda asing yang datang ini langsung mengajukan permintaan yang sangat ameh baginya. Permintaan maaf yang diapun tak mengerti arah pembicaraan Idris.
“Apa gerangan yang membuat anda meminta maaf dan keikhlasan, padahal kita baru saja berjumpa? Saya sangat yakin tak ada kekeliruan diantara kita berdua.” jawab lelaki setengah baya.
“Begini pak. Dijelaskanlah semua permasalahan yang telah menimpa dirinya dari awal hingga pertemuan mereka. Mendengar penjelasan tersebut, lelaki paruh baya terkejut, “subhanallah”. Bibirnya sontak berujar memuji Allah.
Beberapa saat laki-laki separuh baya itu terdiam terhipnotis oleh akhlaq laki-laki asing yang berada di depannya. “Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki yang begitu bersemangat menjaga dan mencegah diri dari dosa, padahal bisa saja ia melupakan perkara itu begitu saja. Tapi laki-laki muda ini sangat aneh, dan jarang kutemui.” Pak Tua membatin
Lain halnya dengan pemuda itu, Idris justru dilanda kekhawatiran tiada terkira, jangan-jangan Pak Tua tak mau memaafkannya, “Bagaimana, pak, bisakah aku dimaafkan, dan delima yang aku makan diikhlaskan?”
Pak tua lantas memberi jawaban dengan wajah yang dibuat-buat agar menimbulkan keangkeran, “Aku mau menerima maafmu, asal kamu mau menerima persyaratanku.”
“Oh saya mau Pak, apapun persyaratan yang bapak ajukan, aku mau melakukan, asal bapak mau mengikhlaskan, ” sambut Idris berseri-seri, karena melihat peluang untuk dapat diampuni.
“Begini Nak, “kata Pak Tua mulai menjelaskan serius, “Aku punya seorang anak perempuan tunggal yang tuli, bisu, buta dan lumpuh.”
“Lantas?” tanya si Idris penasaran.
“Aku menghendakimu menjandi menantuku, mengawini putriku. Itulah satu-satunya syarat yang kuajukan agar delima yang telah engkau makan dapat aku ihklaskan, “jelas Pak Tua sejelas-jelasnya.
Innalillah,” desis hati si Idris ketika mendengar penjelasan, “Bagaimana mungkin hanya untuk mendapatkan keikhlasan sebuah delima harus aku tebus dengan mengawini wanita cacat segalanya. Apakah cara ini cukup adil?” Kelihatan sekali kening pemuda Idris berkerut, mempertimbangakan dan memikirkan keputusan yang sangat berat.
Pak Tua memperlihatikan pemuda Idris dengan seksama lantas bertanya malah terkesan setengah memaksa, “Bagaimana Nak?” Memang itulah persyaratanku saja.”
Pemuda Idris terdiam, tampak memikirkan dengan begitu mendalam. Sejenak kemudian ia mengangkat wajah, mendesah berat, lantas memberikan jawaban, “Kalau memang hanya cara itu yang bisa membuat Bapak memaafkan kesalahanku maka aku harus menyanggupinya wahai Pak Tua.”
Mendengar jawaban Idris, lelaki paruh baya itu tersenyum bahagia lantas bicara, “Aku ikhlas memberi ampunan, aku harap kau ikhlas menerima persyaratan.”
“Aku ikhlas, “tukas Idris lugas, sambil menyodorkan sebuah jabat tangan.
“Kalau begitu, sebelum aku mengawinkanmu, kupersilakan kau melihat calon istrimu dahulu, Kata Pak Tua, sambil mempersilakan pemuda Idris melihat calon istrinya di ruang tengah. Pemuda Idris segera beranjak, menuju ruang yang ditunjukkan. Dengan tangan sedikit kaku. didorongnya gagang pintu dengan hati berdebar tak menentu karena matanya akan segera menatap calon istri yang cacat segala rupa.
“Bagaimana bentuk wanita calonku ini, yang cacat segalanya, buta tuli, lumpuh, bisu?” Beberapa saat pintu terbuka hampir tak berbunyi. Di lihatnya sorang wanita jelita yang tampaknya sedanga merenda. Hanya dia dan tak ada lagi wanita lainnya. Bingung. Pintu ditutup kembali sam apelannya ketika ia membuka lantas menemui Ayah perempuan. “Pak, aku tak melihat orang lain di dalam sana,kecuali hanya seorang wanita yang sedang merenda.”
Pak Tua tersenyum lantas berujar, “Dialah calon istrimu.”
“Oh Tuhan, bagaimana bisa begitu? Bukankah Bapak tadi menyebut calonku seorang buta tuli, lumpuh, bisu? Sedangkan yang didalam sana seorang wanita yang sangat jelita dengan muka ranum bak delima?” tanya pemuda Idris setengah tak percaya. Hatinya berdebar kencang.
“Bagini anakku. Dia memang buta dalam soal melihat kemaksiatan. Dia memang tuli dalam mendengar pembicaraan yang dapat menimbulkan murka Allah. Dia memang bisu untuk mengucapkan makian dan lumpuh karena tidak melangkahkan kakinya ke tempat-tempat maksiat, lokasi berkumpulnya syetan. Dia tak pernah bersentuhan dengan segala kemaksiatan, Itulah yang kumaksud bahwa dia buta, tuli, lumpuh, bisu. Karena itulah, tak ada pemuda yang layak menjadi suaminya kecuali orang sepertimu, yang juga menjaga diri dari segala hal yang berkaitan dengan dosa, haram, dan kemaksiatan.
Merekapun dinikahkan. Kebahagian meliputi perjalanan pasangan ini mengarungi bahtera rumah tangga. Karena niatan Lillah Billah dan Fillah, halangan demi halangan hanya Allah tempat terbaik dalam meminta dan berlindung.
Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Quran. Dialah Muhammad bin Idris Assyafi’i yang tak lain adalah Imam Syafi’i.
Itulah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram, ibu yang selalu menjaga kehormatan dan kesuciannya maka Allah pun mengabulkan do’a nya, menganugrahkan keduanya seorang anak yang sale

Keajaiban Al-Qur’an, Fakta Ilmiah Rahasia Kematian

Rahasia kematian 1
Dalam setiap sel tubuh manusia ada waktu yang sangt vital dan kecermatan  yang sangat tinggi, waktu itulah yang telah dianugerahkan oleh Allah untuk mengontrol seluruh proses hidup mulai dari lahir hingga kematiannya.
Para ilmuwan mengatakan bahwa program ini terletak di setiap sel yang bergerak dan berbunyi bersama menit, tidak sendirian, dan waktu ini telah diprogram untuk mengetuk jumlah tertentu dari detak jantung, tidak menambah atau mengurangi. Dan ketika berada di akhir ketukan, maka kematian datang setelahnya dan tidak pernah bisa ditunda.
Dan karena itu, kita bisa mengagumi keakuratan Allah ketika menggambarkan secara jelas kepada kita tentang kematian, Allah berfirman:
“Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan dan mendahulukannya sedetikpun” (An-Nahl: 61).
Rahasia kematian 2
Setelah penelitian panjang dan melelahkan, para ilmuwan menemukan bahwa program kematian sel menciptakan sel yang sama, seandainya tidak ada program ini maka tidak akan mampu melanjutkan kehidupan di muka bumi.
Para ilmuwan menegaskan bahwa kematian adalah makhluk seperti halnya kehidupan, dan seakan kematian itu adalah dasar utamanya. Dan yang menakjubkan kita adalah bahwa hal tersebut kita dapat temukan isyarat yang jelas dalam ayat:
“Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa diantara kalian yang terbaik amalnya”. (Al-Mulk:2)
Jadi kematian adalah makhluk dan inilah yang ditegaskan oleh para ilmuwan dan ini pula yang telah ditegaskan oleh Al-Quran. Pertanyaannya adalah dari mana Nabi saw mendapatkan ilmu ini jika bukan dari sisi Allah?!

Rahasia Kematian 3
Mayoritas para ilmuwan menegaskan bahwa masa tua adalah cara terbaik untuk mengakhiri kehidupan manusia secara alamii, jika tidak, maka setiap upaya untuk memperpanjang hidup di atas batas-batas tertentu akan memberikan banyak afek samping minimal terserang penyakit kanker.
Para ilmuwan mengatakan: “Setiap usaha untuk mencapai keabadian bertentangan dengan alam.”  Para ilmuwan telah menyimpulkan hasilnya, yaitu bahwa meskipun menghabiskan miliaran dolar untuk mengobati masa tua dan berumur panjang, tetap saja tidak akan membuahkan hasil dan manfaat.
Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw, beliau bersabda:
“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak pernah memberikan suatu penyakit kecuali Allah berikan penawarnya kecuali satu masa tu” (Diriwayatkan oleh Ahmad).
Demikianlah fakta ilmu baru datang yang belum dikenal sebelumnya membuktikan dan mengkonfirmasikan kebenaran sabda Nabi saw dan kebenaran risalah Islam.

Rahasia kematian 4
Para dokter ahli jantung menegaskan bahwa fenomena kematian mendadak tersebar banyak di tahun-tahun terakhir ini, dan bahwa terlepas dari perkembangan ilmu kedokteran, namun jumlah manusia yang mati tiba-tiba juga meningkat. Melalui statistik yang akurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menegaskan bahwa fenomena kematian mendadak, tidak muncul kecuali saat ini tang terus meningkat meskipun semua tindakan pencegahan dan antisipasi meningkat.
Ada fenomena yang menakjubkan mencerminkan keajaiban medis yang tidak terbantahkan, Nabi, saw:
“Bahwa diantara tanda-tanda yang dekatnya hari kiamat adalah merebaknya kematian mendadak” (At-Thabrani).
Ini merupakan bukti mukjizat Nabi saw bahwa beliau adalah Rasulullah (utusan Allah)? Marilah kita bertobat kepada Allah agar terhindar dari kematian mendadak ini?!

Rahasia Kematian 5
Para ilmuwan mengkonfirmasi bahwa kematian diciptakan dalam sperma, dan berkembang di dalam sel sejak manusia dalam rahim. Mereka (para ilmuwan) mengatakan: kematian diciptakan dalam setiap unsur sel seperti katup pengaman yang mengontrol kehidupan sel, setelah semua perpecahan mengubah ukuran unsur-unsur tersebut, dan ketika semakin pendek ukurannya maka maka kematian semakin dekat, dan pada ukuran tertentu sel reproduksi akan berhenti dan mati,
Dan itulah yang disampaikan kepada  kita melalui Al-Quran, Allah berfirman :
“Kami telah memperkirakan kematian di antara kalian dan kami tidak mendahuluinya” (Al-Waqi’ah: 60)
Maksudnya adalah bahwa Tuhan Allah SWT  menempatkan sistem yang terprogram untuk proses kematian, sehingga para ilmuwan membuat satu istilah ilmiah baru tentang kematian sel yang disebut (kematian sel yang terprogram) dan karena itu ayat yang menegaskan: “Kami telah telah memperkirakan kematian diantara antara kalian” (Al-Waqi’ah: 60), sesuai dengan fakta-fakta ilmiah, dan ini membuktikan akan mukjizat Al-Quran.

Rahasia Kematian 6
Terjadi pada setiap sel tubuh berbagai tindakan yang disebut oleh para ilmuwan: tindakan degeneratif, yang terjadi setelah periode tertentu dari kehidupan sel. Karena itu, sel tumbuh akan terus berkembang dan membesar serta mulai melaksanakan kegiatannya.
Namun setelah usia tertentu mulai tindakan degeneratif yang terdapat di dalam sel, sehingga para ilmuwan mengatakan bahwa proses ini tidak dapat dihentikan, tetapi yang menghentikan proses ini adalah kematian, karena kematian telah terprogram. Sel ini misalnya, akan mati setelah (sepuluh hari), meskipun kita berusaha untuk menghentikan proses degenerasi ini, sel akan tetap mati, dan inilah kebenaran yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
>“Dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan Dia kepada kejadian(nya). Maka Apakah mereka tidak memikirkan?” (Yasin:68)
Perhatikanlah bersama saya, kata “Nunakkishu” (Kami kembalikan) yang menggambarkan ungkapan yang cermat degeneratif pada sel-sel otak, hati, jantung, dan dalam semua sel manusia ada tindakan degeneratif selalu berakhir dengan kematian, Subhhanallah!

Rahasia Kematian 7
Ada sebuah program yang diberikan Allah dalam setiap sel tubuh, dan program ini bertanggung jawab akan pertumbuhan dan pembelahan sel serta interaksinya dengan sel-sel lainnya, dan ketika para ilmuwan mencoba untuk memperpanjang hidup, maka sel tersebut berubah menjadi sel kanker dan meledak.
Para ilmuwan menyadari bahwa kematian adalah akhir alami dari makhluk hidup, dan ini pula yang telah ditegaskan oleh Al Qur’an. Allah berfirman:
> ”dimanapun Anda berada maka kematian akan tetap menjemput Anda” (An-Nisa: 78].
Lihatlah wahai manusia yang jauh dari mengingat Allah! Sinyal-sinyal ini, pesan-pesan yang tersembunyi untuk Anda, Anda harus memahaminya lalu kembali Pencipta yang Maha Kuasa, Anda harus kembali ke Pencipta yang Maha Agung, Anda harus kembali kepada cahaya Al-Quran, ayat-ayat ini adalah peringatan bagi kita semua untuk merenungkan fenomena ini, yang disebutkan melalui kata-kata Al-Qur’an yang fantastis.
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk:2).
Rahasia Kematian 8
Di antara Rahmat Allah untuk  kita adalah diciptakannya kematian dan menjadikannya akhir alami dari segala sesuatu, Allah SWT berfirman:
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah”. (Al-Qashash:88)
Namun apa yang dikatakan oleh ilmu pengetahuan modern? Ahli biologi saat ini menjelaskan bahwa kematian adalah sama pentingnya dengan kehidupan. Setelah melakukan banyak percobaan dan penelitian para ilmuwan akhirnya mengungkapkan bahwa dalam setiap sel yang ada dalam tubuh manusia terdapat waktu biologis yang khusus untuk sel ini, karena itu renungkanlah makhluk seperti manusia yang bekerja hingga ratusan triliun jam!
Siapakah yang mengatur kerja dari jam tersebut dan siapakah yang melindunginya dari segala kerusakan yang mungkin menyerangnya, siapakah yang mengawasi atas pemeliharaannya,dan siapakah yang menyediakan dan membekalinya berupa energi yang dibutuhkan untuk bekerja. Apakah ada seseorang yang mengklaim hal tersebut dari makhluk-makhluk ini?
Dialah Allah SWT saat berfirman:
“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya”. (Al-An’am:66)
Rahasia Kematian 9
Menurut statistik PBB mengatakan bahwa setiap tahunnya ada lebih dari 700.000 orang melakukan bunuh diri, ada ratusan ribu tewas dalam kecelakaan kebakaran, kecelakaan lalu lintas, pembunuhan.
Ada jumlah tertentu yang mati akibat penyakit jantung, di Amerika Serikat meninggal hingga 700.000 orang dan setengah dari jumlah tersebut yang mati secara tiba-tiba, ada jumlah tertentu yang mati akibat kanker kulit, dan sejumlah tertentu yang meninggal karena kanker payudara dan sejumlah meninggal akibat kanker paru-paru.
Seakan ada sistem tertentu untuk kematian, dan jika kita melihat statistik tahun demi tahun, kita perhatikan bahwa ada rasio yang sangat dekat, dan ketika kita monitor statistik selama sepuluh tahun misalnya, diketahui bahwa persentase ini dekat dan berkembang seiring berjalannya waktu berjalan.
Ini adalah bukti bahwa kematian adalah ketetapan yang telah ditentukan waktunya, dan yang menakjubkan adalah bahwa Al-Quran telah menegaskan fakta ini, Allah SWT berfirman:
“Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan”. (Al-Waqi’ah:60)
Rahasia Kematian 10
Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel manusia, tumbuhan dan hewan, di dalamnya terdapat DNA genom yang dikhususkan pada kematian sel. Dan pada saat para ilmuwan melakukan percobaan memperpanjang umur  pada beberapa sel hewan seperti lalat, setelah beberapa saat sel-sel tersebut berubah menjadi sel kanker, sel tersebut bisa dikatakan mati atau berubah menjadi sel kanker, ini adalah masalah terbesar dan berakhir dengan kematian juga.
Inilah juga yang terjadi dengan manusia, pada saat mereka mencoba untuk memperpanjang kehidupan sekelompok sel manusia, sel-sel berubah menjadi sel kanker mematikan, sehingga para ilmuwan akhirnya memutuskan bahwa kematian tidak kalah penting untuk kehidupan, dan bahwa ia tidak pernah bisa dihentikan. karena itulah Allah:
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati” (Ali Imran: 185).
Inilah hakikat Al-Quran yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan membuktikan akan kebenaran firman Allah Yang Mahakuasa.