Rabu, 28 Maret 2012

Al_Istiqamah: Kiat melawan hawa nafsu

Al_Istiqamah: Kiat melawan hawa nafsu: “Kiat melawan hawa nafsu” Rasulullah menggambarkan perang melawan hawa nafsu sebagai sebuah jiha. Ini dikatakannya setelah pulang ...

Selasa, 27 Maret 2012

Al_Istiqamah: Tafakur

Al_Istiqamah: Tafakur: Tafakur berarti berkonsentrasi,memusatkan pikiran ke suatu tujuan,untuk mendapatkan suatu jawaban,untuk kepastian yang tidak terjangkau...

Kiat melawan hawa nafsu

 
“Kiat melawan hawa nafsu”

Rasulullah menggambarkan perang melawan hawa nafsu sebagai sebuah jiha. Ini dikatakannya setelah pulang dari “perang baar” melawan musyrikin quraisy yang dimenangkan oleh pihak kaum Muslimin,” kita kembali dari jihad kecil menghadapi jiha besar?”

“Apa yang dimaksud dengan jihad akan kita hadapi itu?”

Dan berikut resep dari “Ibnu Qaiyim” agar kita bisa membebaskan diri dari jeratan hawa nafsu:
.Memiliki kesabaran dalam setiap menghadapi kepahitan sebaik-baiknya hidup ialah jika seseorang mengetahui hdup itu dengan kesabaran.
.Berpikir bahwa dia diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu, tetapi untuk urusan yang besar, yang tidak bisa dicapai kecuali dengan menentang nafsunya.
.Mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga ia tau berapa nafasu itu meloloskannya kepada ketaatan dan mendatangkan kehinaan.
.Mempertimbangkan hak orang lain dengan sebenar-benarnya, kemudian menggambarkan jika kedudukannya seperti orang lain.
.Menghinakan diri sendiri karena tunduk kepada hawa nafsu. Jangan tertipu kehebatan dan kesombongan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya.
.Ingatlah sabda Nabi: Orang yang kuat itu bukan karena dengan bergulat, tetapi orang yang kuat ialah yang dapat menguasai dirinya tatkala sedang marah.******

Minggu, 25 Maret 2012

Bab:4.Attakhallii Membersihkan Diri.tulisan versi Arabic




Attakhallii  Membersihkan diri dari shifat2 yang tercela (kotoran2hati)
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
ü×øæ÷ÆùtüÙùËüC÷ÜûùÛùYüÆ ÷ÛùÕCúnüêùU÷Â÷×û÷Ú÷æ÷YùÆ D÷ÙE÷m÷küj÷¿÷Æ÷Ü
÷ØüÜønù¡üMøé÷Ë þÛøêü±÷C ü×øæ÷ÆC÷ÜD÷æùL ÷ØüÝøæ÷¿ü»÷é ÷Ë þKüÝøÇø¾
 üÔD÷²@üÙ ÷ËüD÷Â÷Äùðÿ÷ÆøC ÷ØüÝ@ø²÷Öüs÷é÷Ë þØC÷k÷C ü×øæ÷Æ÷Ü , D÷æùL
(179-¹Cn±ËC)÷ØüÝøÇù»÷·üÆCø×øå ÷Äùðÿ÷ÆøC,ûøÈ÷¤Cü×øåüÈ÷L
Firman Allah saw, didalam al-quranul kariim : walaqad dzara’na lijahannama katsiran minaljinni wal-insi lahum quluubun laa yafqahuuna biha walahum ‘ayuunun laa yabshiruuna biha, walahum adzanun laa yasma’uuna biha, ulaa-ika kal-an’ami bal hum a’dhallu, ulaa-ika humul ghafiluuna (al-‘imran-179), artinya : dan sesungguhnya telah kami anjurkan untuk isii neraka jahanam itu kebanyakan dari (jin dan manusia) bagi mreka itu diperlengkapi dengan (hati) yang tiada mereka pergunakan hatinya itu untuk memahami (mengingat) Allah-bagi mereka itu diberi mata, tiada dipergunakan matanya itu untuk melihat segala dalil ke agungan/kekuasaan Allah, bagi mereka diberi telinga yang tiada mereka pergunakan pendengarannya itu untuk mendengar kalamullah, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka terlebih sesat lagi, mereka itulah yang (lali) daripada mempertuhankan Allah,
Orang lali daripada mengingat allah karena lebih banyak mengabdi kepada kehendak (hawa nafsunya sendiri) dihukumkan sebagai mempertuhankan (hawa nafsunya) sebagaimana yang disinggung dalam firman Allah :
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
(43-ØD¾n»ÆC) øç÷Ù|Ý÷å øç÷æ÷|ÆùC÷l÷gû÷PC ùÛ÷Õ ÷Rüé÷ô÷m÷C
Ara-aital manittakhadza ilahahu hawaahu (al-furqan-43), artinya : adakah engkau melihat orang yang mentuhankan hawa nafsu sendiri?
Bertolak pangkal dari kandungan ayat-ayat tersebutlah maka wajib kita membersihkan diri kita dari segala kotoran (hawa nafsu) yaitu segala shifat madzmumah, jangan sampai diri kita menjadi ‘abdinya (hambanya hawa nafsu),
Adapun shifat-shifat tercela mengotori jiwa manusia itu terutama ialah:(hasad)=Iri
hati-(haqad)=dengki-benci-dendam (su-uzhani)=buruk sangka-takabur-sombong-(‘Ujub)=merasa lebih sempurna dari orang lain,(riya)=mempamerkankelebihandiri,(sum’ah)=cara2nama/kemasyhuran,(bukhul)=kikir-(hubbulmali)=cintakebandaan,(tafakh-khuru)=berbanggadiri,(ghadhabun)=marah,(ghiibatun)=mengumpat,(namimah)=mengumpat,(kidzibun)=berdusta,(hiyanatun)=hiyanat,(nipaqun)=munafiq,(musyrikun)=syirik,(mempertuhankan selain allah),hubbuddunya….Gila keduniaan/kedudukan, …hubbusy-syahwat…gemar nafsu ke-inginan, (fitnah)=memburukka orang lain, (tsabahatun)=panjangtangan,(mencuri),-(tama’)=rakus,(ghabinatun)=tipudaya,(ghabwatun)=lali-(ta’ashab)=pasek diri,(quwwalatun)=banyak bicara,dan lain-lain seperti itu,
Aapun shifat-shifat yang tercela pada (ma’shiat) zhahir ialah : segala perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh anggauta –anggauta badan manusia yang merusak orang atau diri sendiri hingga membawa pengerbanan banda- pikiran dan perasaan dan ma’shiat zhahir itu melahirkan kejahatan-kejahatan yang merusak seseorang dan mengacaukan masyarakat.
Terlebih berbahaya adalah ma’shiat bathin karena tidak mudah dilihat dari luar dan biasanya kurang disadari dan lebih sukar dihilangkan dan adalah ma’shiat bathin itu sebenarnya pembangkit bagi ma’shiat zhahir an selalu menimbulkan kejahatan-kejahatan baru yang dilaksanakan oleh anggauta-anggauta badan manusia. Semua ma’shiat dan kejahatan itu berasal dari (Hati sanubari), dan shifat-shifat yang buruk itu berasal dari (Hati yang kotor) dan itu merupakan (Hijab/dinding yg menutupi dirinya dari tuhan), sebagaimana yang dimaksudkan dalam firman allah ta’ala :
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
 ü×øæû÷ÙùC û÷Ì÷Â,÷ØüÝøMùsüÃ÷éD÷Õü×ùæùL üÝøÇø¾ë÷Ç÷±÷ØC÷müÈ÷L û÷Ì÷Â
(15:14:Ûê»»©ÖÆC),÷ØüÝøMøYüc÷Ö÷Æ\lùð÷ÕüÝ÷é ü×ùæûùLû÷m üÛ÷±
Kallabal raana ‘alaa quluubihim mayaksibuuna, kalla innahum ‘an rabbihim yauma-idzin lamahjubuuna (al-muthafifina-14-15), =artinya : segala-gala curang itu, sesungguhnya apa-apa telah menutupi (Hati) mereka segala (dosa) yang telah mereka usahakan, sekali-kali tidak benar mereka itu, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) tuhan,
Dan lagi mengenai orang-orang yang berpaling inkar akan peringatan-peringatan dan ajaran-ajaran pada kebenaran yang disampaikan oleh rasuulullah saw, maka diterangkan dalam firman Allah :
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
üíùº÷Ü ùçüê@÷ÆùCDÿ÷Ù üÝ@ø±üj÷P Dû÷Ö÷ùÕ \öû÷Úù ÷C ÿíùºD÷Ú÷L üÝøÇø¾ üÝøÇ÷¾÷Ü
(5:RÇ¡»ÆC) þKD÷Yùb÷Ä÷Úüê÷L ÷ ÜD÷ÚùÚüê÷L üÛùÕû÷Üønü¾÷ÜD÷ÚùÙC÷k
Waqaluu quluubanaa fii kinnatin mimmatad’uunaa ilaihi wafii adzaninaa waqruw-wamin baininaa wabainika hijabun.(al-fusilat-5), =artinya : maka mereka berkata hati kamu berada dalam tertutup akan apa yang engkau (muhamad) serukan kami dan ditelinga kami ada sebutan dan antara kami dan engkau ada dinding aling-aling,,,
Nyatanya kotoran  hati itu ada dapatlah kita buktikan didalam shalat kita, setiap mukmin mengerti, bahwa tujuan utama dari shalat itu adalah : untuk mengingati Allah sebagaimana firman Allah ta’ala : ,,,,
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
(14:çÿ¨)üìùnüÂùlùÆ ÷õ÷Ý|Çû÷¡ÆC ù×ù¾÷C÷Ü
Wa-aqimish-shalata lidzikri (Thaha-41), artnya : dan dirikanlah shalat untuk mengingati kami tetapi kebanyakan dalam shalat itu menyeleweng dari tujuan itu, karena sebegitu takbiratul ihram, maka ingatan telah membelok kepada segala macam masalah kekayaan-kekayaan hidup keduniaan, biasanya lalu kita coba menghilangkan ingatan pada urusan-urusan dunia itu boleh jadi dengan memejamkan mata atau menahan nafas, dan mungkin berhasil sebentar tetapi dalam waktu sekejap ingatan-ingatan bercabang itu datang lagi, keadaan seperti ini dapat diumpamakan seperti lalat yang  berkerumun menduduki kotoran-kotoran pada suatu benda, lalat-lalat itu keluar diusir pergilah dia tetapi sekejap saja sudah datang lagi manakala kotoran –kotoran masih ada.
Begitulah pula halnya (hati kita), sukarnya mengingati Allah (dalam shalat sebagai ukuran), jelaslah menandakan masih bertumpuknya kotoran-kotoran didalam (hati) kita banyak atau sedikitnya kotoran itu dapat dirasakan menetap tidaknya hati kita mengingati Allah didalam shalat kita itu, apabila seseorang didalam shalatnya tidak ada sama sekali ingatan pada Allah, itu pertanda dia dalam bahaya besar boleh jadi hatinya telah demikian berkarat dengan kotoran –kotoran (hawa nafsunya) sampai berlapis-lapis, maka pentinglah bagi seseorang yang demikian menempuh jalan ….riadhah….(latihan) pembersihan jiwa dengan mengamalkan berbagi kifayah dzikirullah yang terpimpin oleh guru yang ahlinya.
Maka itu orang yang berbuat kejahatan dengan lidahnya atau tangannya atau lisannya tidaklah dikatakan orang yang busuk badan tetapi yang busuk (hati) oleh karena mengingati Allah itu wajib maka menghilangkan penghalangnya itu wajib, dan berarti membersihkan(Hijab) penghalang dengan membersihkan hati(Tkhalli) itu wajib dalam arti fardhu‘ain : mensucibersihkan hati untuk berbuat baik terhadap sesama manusia dan bertaqwa kepada Allah sebagaimana sama ditunjang dengan kebalikannya yaitu : berbuat baiklah terhadap sesama manusia dan bertaqwa kepada allah, agar hati menjadi suci bersih.
Ketahuilah, bahwa tersingkapnya hijab / dingding penghalang /tabir yang membatasi diri dengan tuhan itu ialah suci bersihnya diri/jiwa dari segala kotoran-kotoran dosa/ma’siat lahir dan ma’siat batin, dan pada garis besarnya ada empat dinding /hijab membatasi diri dengan tuhan itu, maka ada empat jalan pula untuk membuka hijab-hijab itu yang ditempuh dalam empat tingkat pula, yang diuraikan sebagai berikut.
Tingkat pertama : suci dari najis dan hadats (bangsa zhahir)
·        dalam hal membersihkan diri dari najis maka orang beristija/bercebok dengan air atau tanah……………
·        dalam hal mensucikan diri dari hadats besar sesungguhnya wajib mandi yang disebut mandi junub……………………….
·        dalam hal mensucikan diri dari hadats kecil, seseorang wajib wudhu yakni bersih badannya,…………
·        selanjutnya tiap malam disuruh untuk selalu membersihkan tempatny dan lingkungannya, karena untuk menghadap pada Allah ta’ala (seperti sembahyang) mestilah dengan badan yang bersih, pakaian yang bersih dan tempat yang bersih .
Tingkat kedua : mensucikan diri dari dosa (bangsa zhahir.)
 memperbuat dosa yang bangsa zhahir itu berpusat pada (7) angauta badan :
·        mulut yang biasa berkata dosa, menyakitkan,ghibah,menertawakan dan segala bentuk berkata/bersuara yang keji atau jahat, dan untuk menyuapkan makan minum yang haram.
·        Mata yang biasa melihat barang yang haram, mendelik atau melototi orang,
·        Telinga yang biasa mendengarkan cerita kosong atau suara-suara yang haram,
·        Hidung yang biasa menjingjingkan orang atau menggerakkan kebencian.
·        Tangan yang biasa merusak, memukul, mengambil barang haram, menulis atau menggambar yang tercela,
·        Kaki yang biasa berjalan berbuat ma’siat, menyepak menendang, memasuki tempat haram,
·        Perut dan kemaluan yang biasa bersyahwat keinginan akan yang haram dan berzina,
Bahwasanya pada ashalnya segala angauta badan manusia itu diciptakan Allah ta’ala sebagai ni’mat dan amanat, maka oleh karena itu, imam ghazali berpendapat, bahwa menggunakan ni’mat dan amanat tuhan untuk memperbuat dosa dan ma’siat adalah kejahatan yang sangat besar, sudah seyogyanyalah seseorang setiap kali hendak memperhubungkan dirinya dengan Allah ‘azza wajalla yakni tuhan yang maha suci, perlu bertawadha’ dan hikmah wudhu antaralain sangat baik dibiasakan merenungkan tiap-tiap anggauta badan yang dikenali air wudhu itu apa yang telah diperbuatnya, dari hal mulut berkumur-kumur apa kah dosa yang telah diperbuatnya oleh mulut itu, begitupun muka-mata-tangan-kuping-otak kepala-kaki dan sebagainya, mengingati yang demikian agar memenuhi apa yang disabdakan Nabi saw, : apabila berwudhulah  seorang hamba, yang muslim, lalu berkumur2 maka keluarlah daripada mulutnya segala kesalahan, apabila mengisap hidung atau berbangkis maka keluarlah dari hidung segala kesalahan, apabila membasuh mukanya maka keluarlah dari mukanya segala kesalahan, apabila membasuh kedua tangannya keluarlah dari tangannya kesalahan, apabila memabsuh kedua kakinya dan kedua kakinya keluarlah segala kesalahan dari kakinya, demikian tatkala menyapu kepalanya dan kedua telinganya niscaya keluarlah segala kesalahan dari kepalanya sampai dari kedua telinganya, kemudian adalah perjalanannya ke masjid dan shalat itu kemulyaan baginya.
Pada pan ilmu thareqat mensucikan diri dari yang bangsa zhahir itu taubat (yang akan diterangkan kifayahnya nanti)
Tingkat ketiga : bersuci dari dosa yang bangsa bathin/hati.
Bermula yang menjadi pangkal perbuatan yang menjadi dosa dan menjadi pahala itu ashalnya terbit dari ahti, telah bersabda
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
øj÷s÷YüÆC ÷døÇ÷z üR÷cøÇ÷zC÷kùC úö÷·ü¥øÕùj÷s÷YüÆC üíùº û÷ØùC
  øNüÇ÷¿üÆC÷íùå÷Ü|ËùC øçûøÇøÂøj÷s÷YüÆC ÷j÷s÷º üO÷j÷s÷ºC÷kùC÷ÜøçûøÇøÂ
rasuulullah saw, inna fii aljasadi mudhghatan idza shaluhat shaluhal jasadu kulluhu waidza fasadat fasadal jasadu kulluhu ilaa wahiyalqalbu,= artinya : sesungguhnya didalam tubuh jasmani manusia itu ada segumpal daging, apabila baik dia niscaya baiklah sekalian jasadnya dan manakala rusak dia niscaya rusaklah pula sekalian jasadnya, ketahuilah : ialah (Hati),  
Maka para ahli shufiyah meumpamakan (Hati) itu sebagai raja dan sebatang tubuh jasmani sebagai kerajaannya dan anggauta2 zhahir itu adalah sebagai rakyatnya (mata-telinga-lidah-hidung-dua tangan-dua kaki-perut-dan parji), jikalau hati itu telah baik maka baiklah pekerjaan anggauta badan yang zhahir semuanya dan jikalau hati itu telah jahat tentu berbuat jahatlah semua anggauta badan yang zhahir itu, adapun yang dikatakan hati yang baik itu ialah jika hati itu tetap selalu mengingati Allah dan yang dikatakan hati yang rusak/jahat ialah hati yang lali kepada Allah maka mudah berbuat dosa dia, ketahuilah, bahwa hati itu ada (7) pangkat dan dinamakanlah tujuh lathaif (lathifah2), yang hanyalah keadaan saja dapat dirasakan dengan perasaan yang haluh dengan pertolongan Allah ta’ala kepaa siapa2 yang dikehendakinya.
Apabila di dalam lathaif yang tujuh itu terapat shifat-shifat mazmumah yaitu shifat-shifat yang tercela tentu orangnya yang bersangkutan adalah lali kepada Allah ta’la, sebaliknya jikalau didalam (7) lathif itu seseorang telah tertanam subur shifat-shifat mahmudah/terpuji oleh syara’ tentulah orang ini qawan mengingati Allah, selalu hudhur hatinya serta Allah.
Maka hendaknya di-ingat bahwa anggauta2 diri yang zhahir itu sebenar-benarnya menurut perintah daripada anggauta diri yang bathin yang tujuh itu yaitulah :
1.      lathifatul qalbu   (tempatnya) dua jari dibawah susu kiri……………
2.      lathifatur-ruuh        (tempatnya)     dua jari dibawah susu kanan………
3.      lathifatussir              (tempatnya)      dua jari di atas susu kiri…………
4.      lathifatul khafi          (tempatnya)         di atas susu kanan………
6.      lathifatun-nafsi anathiqah    (tempatnya)   di tengah dahi……
7.      lathifatul kulli jasadi (tempatnya) di ubun-ubun/otaq kepala (keadaannya meliputi sekalian jasad badan)………..
adapun mensucikan lathaif yang tujuh tersebut dilaksanakan dengan dzikir lathif, yang akan kita bicarakan dalam bab-bab yang akan datang, sebagaimana telah kita ketahui bahwa diri kita terdiri dari jasad-hati dan ruuh (nyawa), maka shifat suci bersih ari segala yang tercela itu pun mestilah meliputi kesemuanya itu, maka itu
Tingkat kempat : bersuci daripada dosa yang bangsa nyawa. 
Ini disebut juga sebagai mensucikan sukma (rabbaniyyah) yang dinamakan lathifatul qalbu juga, yakni bangsa ruuh yang paling halus dan dialah yang memerintah dan mengatur gerak hati dan anggauta badan jasmani, dialah disebut juga sebagai (haqeqat) diri dan induk dari semua lathaif, dialah yang dapat muqaraba dan musyahadah dengan Allah ‘azza wajalla manakala telah dibersihkan ari najis dan hadats, suci dari kotoran-kotoran zhahir dan kotoran-kotoran bathin dengan dihiasi (dzikrullah). Sesungguhnya kehidupan dan alam ini penuh dengan rahasia-rahasia tersembunyi dan rahasia-rahasia itu tertutupi dengan dinding yaitulah (hawa nafsu) kejahatan kita sendiri tetapi rahasia itu bisa terbuka dinding itu bisa tersingkap dan dapatlah manusia dengan tekun menempuh jalannya, dan jalan itulah yang disebut (thareqat) yang pada garis besarnya berurut dari (Tkhalli-Tahalli-tajalli)................
Tamat
Rahmat Mulyadi. Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar Indonesia






Sabtu, 10 Maret 2012

Bab 17 Ma'rifat. Versi Arabic & Latin


MA’RIFAT SEBAGAI TUJUAN KITA, DAN MA’RIFAT
ATAS ‘ILMUL YAQIIN -‘AENAL YAQIIN - HAQQUL YAQIIN
Bahwasanya tujuan kita adalah Fana untuk mencapai Ma’rifat adapun pengertian Fana menurut pandangan kejiwaan adalah,(mentiadakan diri supayaada).Dan secra tashauf adalah, leburnya perabaan pada kebaqoan Allah disana perasaan keinsanan lenyap karena telah diliputi diri dengan Alkhaqu ta’ala, maka ketika itu antara diri dengan Allah menjadi manunggal dudalam baqonya tampa (Hulul) / berpadu dan tampa (Istihad)/bersatu, yaitu dekat, berpisah tiada dua, namun didalam pengertian sebagai mana yang dikatakan oleh syekh ‘abdul karimaljaelani katanya.
×êbûnÆC ÛÖbûnÆCÓC ×sL
újüM÷± þKû÷nÆC÷ËC÷ÜDûú÷L÷m øjüM÷²üÆCønüêù¡÷é÷ËþûK÷ûnÆC û÷ØùC÷Ü øjüM÷± ÷jüM÷²üÆCû÷ØùC
Innal ‘abda ‘abdu wainnarrobba robbun layashiru ‘abdu robbaan warobbun ‘abdan.Artinya : bahwa sesungguhnya Hamba adalah Hamba. Tuhan adalah.Tuhan, tiada mungkin Hamba menjadi Tuhan dan juga tidak mungkin Tuhan menjadi Hamba. Selanjutnya beliau berkata :
×êbûnÆC ÛÖb ûnÆCÓC ×sL
müÝøæø®ùLùçùsü»÷Ù üÛ÷±úË÷Ü÷Cë÷Úü»÷êüÙ÷CëùÚüs÷ÃüÆC÷l÷å øö÷Õ÷Ì÷±÷Ü
û÷×ùæûùL÷m üÛ÷±DúêùÙ÷DT ë÷Ú»÷éT ùöû÷÷êùL øûnÆC ûùnùrùmüÝøæø®ùL û÷×øvùçûùL÷mù
ùçùPC÷k ùOD÷¿üêù¿÷c÷QøÖùL ùçùPD÷»ùz ùOD÷¿÷Ç÷²øÕ üÛ÷±DúUùÆD÷Të÷Úü»÷é
Wa’alamatu hadzalkasni an yafna awalan sirri rububiyyati tsumma yafna an ma’allaqoti shifatihi bimutahaqiqi dzatihi.Arinya : adapun cirinya (Kasfa) itu ialah : yaitu pfananya seseorang dari pancaran tuhan segala yang mengikuti shifatnya karena tahqiqinya dzatullah. dalam pada itu berkata pula saidina ‘ali ibnu tholib karomallahu wajhah .
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
÷RüÙ ÷C øOüj÷X÷Ü ëùïD÷Ú÷º ëùº÷Ü ,ëùïD÷Ú÷º ëùïD÷Ú÷º ëùº÷Ü
Wafii fanaii fana fanaii, wafii fanaii wajadti anta.Artinya : dan didalam kefanaanku barulah kefaanku .tetapi didalam kefanaanku ( Itulah Aku) mendapatkan engkau alkhaq ta’ala.
Perihal tashauf  menerangkan. bahwa pintu fana'u itu iyalah :
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
üÓCëùQ÷²üêù²ûÕ ünùÂùkünûLüÛ÷Ç÷ÃûÂünûL : ùnü ûùlÆC øÔC÷ Ü÷ i
Dawamu  dzikri.Artinya : berkekalan berdzikir mengingat Allah
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
.üÓ÷C üÛùï÷Ìûr ü³÷é üÛ÷ D÷ºüÝøÇûÕ Û÷Ç÷ÃûÂünûL :ù ØD÷êûùÚÆC øÔC÷ Ü÷ i
Dawamun niyani .Artinya : berkekalan melupakan selain Allah
×êbûnÆC ÛÖbûnÆCÓC ×sL
÷ø×üÇù±Ü øö÷ºùnü²÷Õ  ÷ûÈøÃ÷º.ø×üÇù²üÆC ÷íùåùôD÷Ö÷Çø²üÆCùØD÷sùÆë÷Ç÷± øö÷ºùnü²÷ÖüÆ÷C
×ùÆD÷± \¹ùmD÷±ûøÈøÂ÷Ü þ¹ùmD÷±ù çû÷ÇÆDùL \×ùÆD÷± ûøÈøÂ÷Ü. þ×üÇù± \ö÷ºùnü²÷ÕûøÈøÂ
Adapun mengenai Ma’rifat, maka telah berkata abi qohar :
Alma’rifatu ‘ala lisanil ‘ulamai  hiyal ‘ilmu fakulla ‘ilmun ma’rifatun wakullun ma’rifatin’ilmun. Wakullun ‘alimin billahi ‘arifun wakulla ‘arifi ‘alimun.Artinya : ma’rifat menurut pendapat ‘ulama (bukan ahli tashauf) ialah pengetahuan, maka tiap-tiap ‘ilmu itu ma’rifat dan tiap-tiap ma’rifat itu adalah ‘ilmu dan tiap-tiap orang ‘alim dengan Allah   adalah orang ‘arif dan tiap-tiap orang ‘arif adalah ‘alim  (orang yang berilmu)
÷ ×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
üÛ@@÷Ö÷º÷Ýøæ÷ºùÈüêùÆ û÷jÆDùL øç÷º÷mD÷±üÛ÷Õ ùö÷¿üêù¿÷cüÆCë÷Ç÷± þ¹ùmD÷±
þíùÕD÷±÷Ýøæ÷ºùÈüêùÇü¿û÷QÆDùLøç÷º÷mD÷±üÛ÷Õ÷Üþ×ùÇ÷Ã÷QøÕÝøæ÷ºùçùLøÓC÷¹÷n÷±
Selanjutnya beliau memberikan perincian tentang pengertian Ma;rifat katanya
Faman ‘arofallahu bihi fahuwa ‘arifun ‘alal haqiqoti man ‘arofahu biddalilii fahuwa mutakalimun waman ‘arofahu bitaqliyaai huwa ‘amiyun. Artinya : barang siapa mengenal allah dengan jalan pertolongan allah, orang itu ‘arif akan allah secara haqiqi (ahli tashauf) dan barang siapa orang ‘arif dengan secara dalil saja. maka orang itu tergolong pada ahli (mutakalim) ahli ushuludin. dan barang siapa yang akan Allah dengan secara taqlid (mengikuti /menuruti perkataan orang lain tampa mencari dalil) maka orang itu bodoh.
Selanjutnya seorang masuk tashauf dari abad ketiga hijriyah yakni : dunun mikriyah. Mengatakan   pandangannya   tentang   tiga   macam tingkat   pengetahuan tentang tuhan yaitu : Pengetahuan umum :
Tuhan itu   satu ( ahad )  dengan  perantaraan  ucapan ( kalimat syahadat.)
Tuhan itu   satu menurut jalan ‘aqal  pikiran  ( pengetahuan ‘ulama / shufi )
Tuhan itu   satu   dengan   pengenalan  /  penglihatan   ( hati sanubari ).
Maka pengetahuan menurut pengertian yang (pertama) dan yang (kedua) tersebut (awam) dan ‘ulama sebenarnya belumlah merupakan pengetahuan (haqiqi) tentang tuhan, maka keduanya disebut (‘ilmu) dan bukannya (Ma’rifat)  pengertian yang melandasi pengetahuan yang (ketiga) barulah disebut sebagai Ma’rifat karena telah merupakan pengetahuan (haqiqi) tentang tuhan.
Jelaslah bahwa ma’rifat hanya terdapat pada qaom shufi yang sanggup Melihat Tuhan denga hati sanubarinya, yang adalah karunia / anugrah allah kepada qaom shufi yang benar-benar berjuang dengan hasrat bertemu tuhan, dari sangat cintanya mereka kepada tuhannya, Ketika dunuun di tanya :
 ×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
? ÷Ä@@@@@@@û÷L÷m øö@@@@üº÷mD÷± D÷Ö@@@@ùL
Bima’Aroftu Robbaka? Artinya : dengan bagimana anda Ma’Rifat / mengenal akan tuhan anda ?
×êbûnÆC ÛÖbûnÆCÓC ×sL
÷ üíûùL÷m øRüº÷n÷± D÷@Ö÷Æ üíûùL÷m ËüÝ÷Æ÷Ü üíûùL÷nùL üíùL÷m øöüº÷n÷± 
Qola : ‘aroftu robbi bi robbi walaolaka robbii lama ‘aroftu robbii.Artinya : aku mengenal tuhanku dengan tuhanku dan sekiranya bukan pertolongan tuhanku niscaya aku tidak mengenal tuhanku
Dari kata-kata tersebut tergambar bahwa Ma’rifat tidak diperoleh begitu saja tetapi adalah pemberian dari tuhan, oleh karena itu maka Ma’rifat bukanlah hasil pemikiran manusia tetapi terkandung pada kehendak dan rahmat tuhan, dengan lain perkataan, bahwasanya Ma’rifat adalah pemberian Allah kepada qaom  shufi yang  sanggup  mampu    menerimanya
Setengah dari pada ahli shufiyah menerangkan perihal tiga alat untuk memperoleh Ma’rifat yakni tiga alat dalam tubuh manusia. Yang dipergunakan oleh ahli shufiyah pada umumnya dalam hubungan mereka dengan tuhan :
1 . Qolbu =====================untuk mengetahui shifat tuhan
2 . Ruuh ===================== untuk mencintai tuhan
3 . Sirr    =====================untuk melihat tuhan
Adapun Sirr disini lebih halus daripada Ruuh dan Ruuh adalah lebih halus dari Qolbu dan Qolbu itu. tidak sama dengan jantung karena Qolbu adalah alat untuk (merasa) dan pula alat untuk berpikir.Adapun perbedaan Qolbu dengan‘Aqal ialah bahwa‘Aqal tak bisa memperoleh pengetahuan sebenarnya tentang tuhan sedang Qolbu bisa mengetahui haqeqat dari segala yang ada manakala Allah melimpahkan Nuur-nya kepada Qolbu insan seolah-olah Siir bertempat di Ruuh dan Ruuh bertempat di Qolbu dan Sirr timbul serta dapat menerima limpahan rahmat da Allah kalu Qolbu dan Ruuh itu telah suci benar kosong daripada selain Allah, maka pada ketika itu tuhan menurunkan cahyanya kepada orang shufi dan menjadilah yang dilihat orang shufi itupun hanyalah Allah begitulah maka dia telah sampai ketingkat Ma’ifat
ùNüÇ÷¿üÆCøÔüp÷Xùö÷ºùnü²÷ÖüÆ÷C. ×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
ùO÷ËD÷Ö÷ÃüÆCùnùïD÷sùLDú»ù¡û÷QøÕùjøXüÝ÷ÖüÆCùNùX÷ÝüÆCùiüÝøXøÝùL
Diantara beberapa ta'riif tentang Ma'rifat adalah :Alma'rifat jazmul qolbi biwuujuudil waajibil maujuudi muttashifan bisaairil kamaalati. Artinya : ma'rifat itu iyalah ketetapan Hati mempercayai akan wuujudnya dzat yang waajib Wuujuudnya yang bershifat dengan segala kesempuraannya
×êbûnÆC ÛÖbûnÆCÓC ×sL
ùö@÷Müê@÷å ëùº  øçøï÷DÚ÷º÷Ü ùõ÷nüê÷güÆCëùº øäøiüÝøæør øö÷ºùnü²÷ÖüÆ÷C
Al’ma’rifatu syuhuuduhu fiil khairoti wafanaauhu fii haibatin. Artinya:ma’rifat itu nampak didalam keadaan tercengang dan leburnya kita didalam keadaan pingsan ( fana ), sebagaimana digambarkan didalam peristiwa Nabiyullahu Musa memohon agar dapat melihat Allah.
×êbûnÆC ÛÖbûnÆC ÓC×sL
ünø®üÙùÛùÃ÷Æ÷Ü üíùÙ÷n÷QüÚ÷Æ ÷ÅD÷¾  , ÷Äüê÷ÆùC ünø®üÙøC üíùÙùm÷C ûùK÷m ÷ÅD÷¾
ëû÷Ç÷Y÷PDû÷Ö÷Ç÷ºüíùÙ÷n÷P ÷¹üÝ÷s÷º øç÷ÙD÷Ã÷Õ û÷n÷¿÷QürùØùD÷ºùÈ÷M÷YüÆCë÷ÆùC
.Dú¿ù@²÷z ë÷rüÝ@@øÕ û÷ n@@÷f÷ÜD@û÷Â÷i øç@÷Ç÷²÷X ùÈ÷M@÷YüÇùÆ øç@û÷L÷m
qala rabbii arinii unzhur ilaika, qala lantaranii walakinzhur ilal jabali fainistaqarra makanahu fasaufa taranii falamma tajalla rabbahu liljabali ja'alahu dakka wakharra muusa sha'iqan. (Al’Imroon 143) Artinya : hamba dapat melihat engkau,Wahai tuhanku nampakanlah dzat kesempurnaan engkau kepada Hamba  Allah berfirman : kamu sekali-kali tidak sanggup melihat  (Aku) tetapi melihatlah kebukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya niscaya engkau dapat melihat (Aku), tetkala tuhannya nampak bagi bukit itu maka kejadian itu menjadikan bukit itu Hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Dari ayat tersebut dapatlah dipetik pengertian melihat Tuhan itu bukan dengan mata kepala.
×êbûnÆCÛÖbûnÆC ÓC×sL
 ømD÷¡@@@@üL÷ËüC øç@@@@@@øÂùmüj@@@@ø@P÷Ë
Firman Allah SWT: latudrikuhul abshoru, Artinya : allah itu tidak mungkin dilihat dengan penglihatan mata kepala.
2  . Bahwa ma’rifat itu sesungguhnya adalah  tembusnya  penglihatan  Hati  kepada Allah.
ù×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
ùOC|Ý@@|Öû÷sÆCëùºC÷kD÷ÕCüÜø n@@ø®üÙ ùÈø¾
Firman Allah SWT : qulinzhuruu maadzaa fiissamawaati wal‘ard.Artinya :Lihatlah apa yang sebenarnya yang ada dilangit dan dibumi.
3. bahwa senantiasa ruuh itu terhijab dengan rasa keinsanan / insaniyah maka tiada yang dilihat kecuali yang nampak juga. Apabila shifat ruhaniyah lebih berkuasa atas shifat keinsanan. Maka berbalik pandangan (mata) kepala menjadi pandangan (mata hati) artinya : tiada dilihat oleh mata kecuali apa yang dilihat oleh (hati) dalam pada itu penglihatan (mata) yang bershifat kebaharuan(muhaddats) lebur dalam penglihatan (hati) yang bershifat keqodiman, maka tentunya tidak dapat bercampur baur dengan qodim.
Setengah daripada ahli tafsir atas ayat :
×êbûnÆCÛÖbûnÆC ÓC×sL
üíùÙ÷n÷P ÷¹üÝ÷s÷º øç÷ÙD÷Ã÷Õ û÷n÷¿÷QüsùÙùD÷º ùÈ÷M÷YüÆCë÷ÆùC ünø®üÙùÛùÃ÷Æ÷Ü
Waalakininzhur Ilaljabali fainistaqorro makanahu fasaufa taronii.Artinya : akan tetapi lhatlah kebukit itu maka jika ukit tetap ditempatnya, (niscaya engkau dapat melihat aku) ditapsirkan sebagai mengandung pengertian bahwa tuhan menggantungkan bolehnya (jaiz) terlihat atas tinggal tetapnya. Bukit itu pada tempatnya, Artinya : Allah itu mungkin terlihat pada pada dirinya dan apa-apa yang terkandung atas kemungkinan itu (mungkin hukumnya)
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
       Dû÷ ÷i øç÷Ç÷²÷XùÈ÷M÷YüÇùÆ øçû÷L÷mëû÷Ç÷Y÷P Dû÷Ö÷Ç÷º 
Lalu atas ayat: Falammaa tajallaa robbahu liljibali Ja’alahu dakka. Artinya : (tetkala tuhannya nampak bagi bukit itu) maka kejadian itu menjadikan bukit itu (hancur luluh )Ditapsirkan dengan pengertian : maka bila ada kemungkinan bahwa tuhan itu bisa nampak bagi bukit benda beku itu, bagaimana akan tidak mungkin nampak bagi rasulnya dan para aulianya yang tidak beku itu.
Dan lagi manakala dekat, bahwa sesungguhnya Allah berkata –kata dengan Nabi Musa r.a. dan Nabi Musa mendengar kata-kata Tuhan itu lebih mungkin lagi berarti barang siapa yang sudah mencapai Ma’rifat, maka lenyaplah diri keinsanan (lebur luluh) keadaan kebaqoan Allah ta’ala. 

øçüX÷Ü ë÷¿üM÷é÷Ü.ùØD÷ºD÷æüê÷Ç÷±üÛ÷ÕûøÈøÂ.×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
( 27 - 26- ÛÖbnÆC )............üÔC÷nüÂùËüC÷Ü ùÈ÷Ç÷Y@üÆCøk ÷ÄûøL÷m
Firman allah ta’ala :kullu man ‘alaiha faani. wayabqo wajhu robbuka dzuljalaali wal ikroom ( Arrohman 26-27 ) Artinya : semua yang Ada dibumi itu akan binasa. dan akan tetap Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebenaran dan kemuliaan.
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC ×sL
ùÓCùÛ÷±÷NùYøbøç÷sü»÷Ù÷E÷müÛ÷Õ÷Üùçùsü»÷ÙüÛ÷±ë÷Ç÷±ë÷ÆD÷²÷Pû÷À÷cüÆCüì÷ ÷E÷müÛ÷Õ
Man roal haqqo ta’ala ‘annafsihi waman roa nafsahu habiba ‘anillah. Artinya : barang siapa yang melihat tuhan niscaya lenyaplah iya dari dirinya dan barang siapa masih melihat dirinya niscaya terhijab dia dari pada Allah…..
justru maka pengertian Ma’rifat tiada cukup dengan jalan dalil atau dengan aqal pikiran saja, tetapi Ma’rifat dicapai dengan pertolongan Allah sebagai karunianya.
Ma’rifat atas yaqiin.
Bermula Yaqiin ialah :
2. tindakan bahwa keyaqinan itu adalah suatu ‘ilmu yang tidak sesatkan angan-angan dan tidak dicampuri keragu-raguan.
3. bahwa keyaqinan itu adalah Nuur cahya yang diciptakan oleh Allah didalam
 Hati Sanubari Hambanya sehingga dengan bantuan Yaqinan itu dapat jelas bagian segala perkara yang Ghoib.Tetkala Shekh al-junaed :
×êbûnÆC ÛÖbûnÆCÓC ×sL
÷Ý@øå øÛüêù¿÷êüÆ÷C.ùNüê÷·üÆC ùj÷æüw÷Õ ëùÆ üíùMüé÷ûnÆC ø°D÷»ùP ümùG øÛüêù¿÷êüÆ÷C
ùNüÇ÷¿üÆCëùºønûùê÷·øé÷Ë÷ÜøÅüÝøc÷é÷Ë÷ÜøNùÇ÷¿üÚ÷é÷Ëüìùlû÷ÆCø×üÇù²üÆCømC÷nü¿ùQür
Al’yaqiinu irtifaa’urroibi fii masyhadil ghoibi. al’yaqiinu huwas tiqrorul ‘ilmil ladzii layanqolibu  walaa yahuulu walaa yaghoyyiru fiil qolbi Artinya : yaqiin itu menghilangkan keraguan pada ketika jelasnya yang ghoib bahwa yaqiin itu ialah ketetapan ‘ilmu yang tidak berputar-putar (berbalik-balik) dan tidak terumbang-ambing  serta tidak pula    (berubah–rubah), dalam hati.
Tegasnya bahwa yaqiin adalah Kerajaan Qolbu dan dengan keyaqinan itu menjadilah sempurna iman dan yaqiin itu pula kunci untuk sampai pada Ma’rifatullah.
÷Äüê÷ÆùC÷ÈüéùpüÙøCD÷ÖùL÷ØüÝøÚùÕüãøé ÷Ûüéùl÷ÆC÷Ü.×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
(45:än¿MÆC)üØüÝøÚù¾ üÝøé ü×øåùõ÷nùf÷ËüCDùL÷Ü÷ÄùÇüM÷¾  üÛùÕ÷ÈüéùpüÙøC÷DÕ÷Ü
walladzina yu’minuna bima ilaika wamaa unjila min qolbika wabil akhirotihum yuuqinuun.       (albaqarah.4) Artinya : mereka yang percaya akan apa2 yang diturunkan kepadamu (Al-quran) dan apa2 semua kitab suci. Yang dari sebelum engkau dan mereka itu tidak  meyaqini akan masa akhirat
Bahwa yaqiin itu adalah iman tetapi tidaklah tiap-tiap iman itu adalah yaqiin, karena iman itu kadang-kadang dapat dimasuki Ghoflah / kelalayan padahal yaqiin itu tidak bisa dimasuki kelalayan .Telah bersabda
Rasulullah saw
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
D÷Öû÷ÙùCùÛêù¿÷êüÆCø¼ü²ù¤÷Ü .ùÛüêù¿÷êüÆC ø¼ü²ù¤ ëùQû÷ÕøCë÷Ç÷±ø¼÷f÷CD÷Õ ø¹÷Ýüf÷C
ùõ÷Ýüsø¿üÆC÷Üùö÷ÆD÷©ùMüÆCùKD÷Lüm÷CùR÷©÷ÆD÷gøÕ÷ Üùö÷Çü»÷·üÆCùÈüå÷Cùö÷é üâømüÛùÕøØüÝøÃ÷é
akhwafu maakhofu ‘alaa ummatii dhi’ful yaqiin wadhi’ful yaqiin innama yaqunu min ru’yati ahlil ghoflati wamukholathoti arbabil bitholati walquswati. Artinya : yang sangat aku takutkan diantara ketakutan terhadap umatku ialah(lemahnya keyaqinan)bahwa lemahnya keyaqinan itu adalah kerena terdorong kepada orang2 yang lupa agamanya ,dan bergaul orang sesat yang bershifat kasar lagi berkepala batu.

Ma’rifat atas ‘ilmul yaqiin
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
(5:nvD÷ÃûQÆC)Ûêù¿÷êüÆC ÷×üÇù± ÷ØüÝøÖ÷Çü²÷PüÝ÷Æ ÷Ì÷Â
Firman Allah SWT: Kalaa lauta’lamuuna ‘ilmal yaqiin.(Attakasyur-5)Artinya:Janganlah begitu,jika kamu mengetahui ‘ilmu Yaqiin.(mengetahui dengan pengetahuan yang Yaqiin)

Maksudnya pengertian, yang mereka dalam keadaan mencari kebenaran dengan jalan pikiran dahulu misalnya : kita kenal Muhammad bin abdullah itu seorang nabi dan Rasulullah, karena kalimat Syahadat memberi keyaqiinan kepada kita dengan pandangan ‘ilmu bahwa Syaidina Muhammad itu benar adalah pesuruh Allah, meskipun belum dijumpai dengan mata kepala jadi pandangan Ma’rufat dibalik tabir ( waroul hijabun ) diyaqiini kebenarannya atas dalil-dalil yang dapat diterima oleh ‘aqal pikiran itulah dalam tarap seperti ini dinamakan Ma’rifat dengan ilmul yaqiin, yang menurut ahli-ahli tashauf dinamakan.
×êbûnÆC ÛùbûnÆCÓC ×sL
.üÓC û÷ËùC ÷Èù±D÷º÷Ë üì÷C.üÅD÷²üº÷ËüCëùºëûùÇ÷Y÷P.üÅD÷²üº÷ËüCëùºøôD÷Ú÷º
ma’rifat dalam tarap : fana-u fiil  af’al : aela fahila illallah .Artinya : fana dalam tingkat fana dalam af’al (perbuatan) tajalli dalam af’al tegasnya : tiada yang berbuat hanyalah Allah.
Ma’rifat atas 'ainul yaqiin.  
×êbûnÆC ÛùbûnÆCÓC ×sL
(7:nvDÃQÆC) üÛüêù¿÷êüÆC÷Ûüê÷±D÷æ÷ûÙüÜ÷n÷Q÷Æ û÷×øT
Firman Allah SWT :Tsumma latarowunnaha ‘ainal yaqiin (Attakaasyur -7).Artinya :lagi  benar-benar kamu akan melihatnya  dengan  keyaqinan  mata kepala........
Pengertian ini mengandung keadaan orang mencari kebenaran dengan demikian  Mata kepala, seumpama kita kenal, Syaidina Muhammad .s.a.w. sebagai Rasulullah bukan sekedar pehabaran / ucapan  orang   saja, tetapi dengan jalan kita telah   membaca Al-quran   dan  kitab
hasits tentang ajaran Agama Islam yang disampaikan kepada dunia, yang dengan jalan itu lebih Shobar keyaqiinan kepada kita baik dalam pandangan Zhohir maupun pandangan Bathiniyah.
Bahwa syaidina Muhammad.s.a.w.itu sesungguhnya hanyalah Rasulullah bahkan seorang
Saidilmursalin. Inilah Ma’rifat pada tingakat ‘aenul yaqiin oleh para ahli tashauf sebagai Ma’rifat taraf:
×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
üÓC û÷ËùC ûøí÷b üì÷C. ùOD÷»ûù¡ÆCëùºëûùÇ÷Y÷P. ùOD÷»ûù¡ÆCëùº øôD÷Ú@÷º
fanau fiish-shifati . Tajalli fish-shifati aela hayyu illallah.  Fana dalam shifat  fana  tajalli dalam shifat.Artinya : tiada yg hidup (yang kuasa yang berkehendak berkata2 ) melainkan hanyalah Allah.
øÓC÷ôD÷wû÷é üØ÷C÷ËùC÷ØüÜøôDÿw÷PDÕ÷Ü . ×êbûnÆC Û|ÖbûnÆCÓC ×sL
Firman Allah SWT:Wamatasyaauna illa ayyasaa allah ( Al’Insan 30 ) Artinya : dan tiadalah kehendak kamu melainkan kehendak Allah jua adanya
Ma’rifat atas haqqul yaqiin.
 ×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
(95:ç²¾CÝÆC) üÛüêù¿÷êüÆC ûøÀ÷å C÷l÷åû÷ØùC
Firman Allah SWT :Innahaadzaa lahuwah Haqqul yaqiin (Al-Waaqi’Ah 95) Artinya : sesungguhnya yang disebut ini adalah benar-benar kenyataan yang benar2 Haqqul Yaqiin.
Yang ini mengandung pengertian bahwa kita mengenal ilmunya Nabi.s.a.w. seperti pada perumpamaan diatas) bukan saja sekedar sebab mempelajari ajaran Islam tampa perantara lagi, kita Masyahadah berpandang-pandangan   dengannya, maka   Ma’rifat / pengenalan  pada
tarap ketiga ini dinamakan : Ma’rifat atas Haqqul Yaqiin, yang oleh para ahli tashauf dinamakan Ma’rifat maka tarap:
×êbûnÆC ÛÖbûnÆC ÓC ×sL
üÓC ÷ûËùC ÷jøXüÝ÷Õ ÷Ë üì÷C . üO û÷lÆCëùºëûùÇ÷Y÷P . üO û÷lÆCëùº øôD÷Ú÷º
fanau fiidz-dzat tajalli fiidz-dzat, aelamajuda illallah,dalam tarap fana dalam dzat tajalli  dalam dzat.Artinya : tiada yang maujud (berwujud) muthlaq hanyalah Allah : maka orang yang telah  sampai disini telah mencapai Kamalul Yaqiin,
ü ×êbûnÆCÛÖbûnÆCÓC×sL
¹ùnü²÷é ü×@@@@@÷Æ ü½øl÷é ü×@@@@@÷Æ üÛ÷Õ
Man lam yadzuq lam ya’rif. Artinya : barang siapa belum merasa maka ia
..................................................................................................
Mohon maaf atas kekurangan dan kekhilafannya. wslm

Selasa, 28 Februari 2012

Keutamaan Membaca Surat Al_Ikhlash

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّها لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan tingginya kedudukan surah al-Ikhlas dan besarnya keutamaan orang yang membacanya, karena surah ini mengandung nama-nama Allah Y yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, sehingga orang yang membaca dan menghayatinya dengan seksama berarti dia telah mengagungkan dan memuliakan Allah U[2]. Oleh karena itu, dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah r ketika mendengar berita tentang seorang shahabat t yang senang membaca surah ini karena sifat-sifat Allah U yang dikandungnya, beliau r bersabda: “Sampaikanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya”[3].
Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:
- Surah ini dinamakan surah al-Ikhlas karena mengandung tauhid (pengkhususan ibadah kepada Allah I semata-semata), sehingga orang yang membaca dan merenungkannya berarti telah mengikhlaskan agamanya untuk Allah I semata. Atau karena Allah U mengikhlaskan (mengkhususkan) surah ini bagi dari-Nya (hanya berisi nama-nama dan sifat-sifat-Nya) tanpa ada penjelasan lainnya[4].
- Surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an  karena pembahasan/kandungan al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: tauhid, hukum-hukum syariat Islam dan berita tentang makhluk, sedangkan surah al-Ikhlas berisi pembahasan tauhid[5].
- Makna sabda beliau r: “…sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an” adalah dalam hal ganjaran pahala, dan bukan berarti membacanya tiga kali cukup sebagai pengganti mambaca al-Qur’an[6].
- Hadits ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan bahwa al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain dan satu surah dengan surah lainnya), jika ditinjau dari segi isi dan kandungannya[7].
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata: “Pembahasan masalah ini harus diperinci dengan penjelasan berikut: jika ditinjau dari (segi) zat yang mengucapkan/berfirman (dengan al-Qur-an) maka al-Qur-an tidak berbeda-beda keutamaannya, karena zat yang mengucapkannya adalah satu, yaitu Allah U. Adapun jika ditinjau dari (segi) kandungan dan pembahasannya maka al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain). Surat al-Ikhlash yang berisi pujian bagi Allah U karena mengandung (penyebutan) nama-nama dan sifat-sifat Allah (tentu) tidak sama dari segi kandungannya dengan surat al-Masad (al-Lahab) yang berisi penjelasan (tentang) keadaan Abu Lahab.
Demikian pula al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain) dari segi pengaruhnya (terhadap hati manusia) dan kekuatan/ketinggian uslub (gaya bahasanya). Karena kita dapati di antara ayat-ayat al-Qur-an ada yang pendek tetapi berisi nasehat dan berpengaruh besar bagi hati manusia, sementara kita dapati ayat lain yang jauh lebih panjang, akan tetapi tidak berisi kandungan seperti ayat tadi”[8].
  

Ciri-ciri Orang yang Ikhlas

Ciri-ciri Orang yang Ikhlas
Ibnu Athaillah berkata dalam kitab Al Hikam, “Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa) nya adalah tempat terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan” Bab tentang ikhlas adalah bab yang mutlak dan paling penting untuk dipahami dan diamalkan, karena amal yang akan diterima Allah SWT hanyalah amal yang disertai dengan niat ikhlas. “Tidaklah mereka diperintah kecuali agar berbuat ikhlas kepada Allah dalam menjalankan agama”. Oleh karenanya, sehebat apapun suatu amal bila tidak ikhlas, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedang amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan ikhlas. Tidaklah heran seandainya shalat yang kita kerjakan belum terasa khusyu, atau hati selalu resah dan gelisah dan hidup tidak merasa nyaman dan bahagia, karena kunci dari itu semua belum kita dapatkan, yaitu sebuah keikhlasan. Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa, Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT. 2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata. 3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT. 4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas. 5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT. Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan. Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut. Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya