Kamis, 23 Juni 2016

Penjelasan Tentang Keutamaan Ber-Istighfar

Setiap diri kita dipenuhi dosa dan kesalahan; bisa berupa tidak menunaikan kesyukuran, tidak menunaikan perintahnya, tidak meninggalkan larangan-Nya, menyia-nyiakan kesempatan yang dibeirkan-Nya, lalai dari mengingat-Nya, dan sebagainya. 
Tersebut akan membuat sesak dada, menghilangkan keberkahan hidup, mempersempit rizki, membuat berat menjalankan ketaatan, menjadi sebab datangnya berbagai kesulitan, dan di akhirat menjadi sebab kegelapan dan kesengsaraan. 
Maka dari itu seyogyanya kita umat Islam senantiasa memohon ampunan pada Alloh Subhanahu Wata'ala dengan selalu ber istighfar setiap hari dalam kehidupan ini.
Berikut beberapa penjelasan manfaat yang akan diraih oleh hamba dengan beristighfar.
Pertama: Istighfar Adalah Sebab Pengampunan Dosa
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]
Kedua: Meluaskan Rezeki Seorang Hamba
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan seruan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.
“Maka saya berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian (karena) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan Dia akan melipatkangandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” [Nuh: 10-12]
Ayat di atas menunujukkan bahwa istighfar adalah sebab turunnya rezeki dari langit, dilapangkannya harta dan keturunan, serta dibukakannya berbagai kebaikan untuk hamba sehingga, terhadap masalah apapun yang dihadapi oleh seorang hamba, jalan keluar akan dihamparkan untuknya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebut sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashry bahwa ada empat orang yang datang secara terpisah kepada beliau. Mereka mengeluh akan masa paceklik, kefakiran, kekeringan kebun, dan tidak mempunyai anak. Namun, terhadap semua keluhan tersebut, beliau hanya menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah,” lalu membacakan ayat di atas.[Fathul Bary 11/98.]‎
Ketiga: Menghindarkan Hamba dari Siksa Allah dan Musibah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.
“Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka dalam keadaan beristighfar.” [Al-Anfal: 33]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula menjelaskan sebab terselamatkannya Nabi Yunus ‎‘alaihis salam,
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ. لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ.
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk sebagai orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” [Ash-Shaffat: 143-144]
Pada ayat lain, Allah Jalla Jalaluhu menjelaskan bentuk tasbih Nabi Yunus ‘alaihis salam yang merupakan salah satu makna istighfar, yaitu dalam firman-Nya,
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Tiada sembahan (yang hak), kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya termasuk ke dalam golongan orang-orang zhalim.” [Al-Anbiya`: 87]
Keempat: Istighfar Adalah Sebab yang Mendatangkan Rahmat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
“Hendaklah kalian memohon ampunan kepada Allah agar kalian dirahmati.” [An-Naml: 46]
Perhatikanlah jaminan Allah tersebut! Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa beristighfar.
Kelima: Salah Satu Sumber Tambahan Kekuatan dan Kejayaan adalah Istighfar
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ucapan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya sebagaimana dalam firman-Nya,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ.
“Wahai kaumku, beristighfarlah kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian dan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, serta janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” [Hud: 52]
Keenam: Istighfar Adalah Salah Satu Hal yang Melapangkan Dada Seorang Hamba
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya, kadang terdapat sesuatu yang melekat pada hatiku maka saya pun beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” [Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Al-Agharr Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu.]
Ketujuh: Wajah Orang yang Beristighfar Dijadikan Berseri dan Berbahagia oleh Allah pada Hari Pertemuan dengan-Nya
Telah shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‎bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ
“Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarany, dalam Al-Ausath, dan Dhiya` Al-Maqdasy dari Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu.]‎
Telah shahih pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Sangat beruntunglah orang yang menemukan bahwa pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu.]‎
Kedelapan: Membersihkan Noda Hitam dari Hati Seorang Hamba
Jika seorang hamba melakukan kesalahan, suatu noda hitam akan tertitik pada hati seorang hamba. Jika hamba beristighfar, dihapuslah noda itu dan hatinya kembali bersih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ ذَاكَ الرَّيْنُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ عزَّ وَجَلَّ فِي الْقُرْآنِ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
“Jika seseorang melakukan sebuah dosa, dititiklah satu titik hitam pada hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti (melakukan dosa), lalu beristighfar, hatinya akan kembali bersih. Jika dia mengulangi dosanya, ditambahkanlah titik hitam sampai menutupi hatinya, dan jika hatinya sudah tertutup, itulah ar-rain ‘penutup hati’ yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam Al-Qur`an, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya sesuatu yang selalu mereka usahakan itu menjadi ar-rain terhadap hati-hati mereka.’ [Al-Muthaffifin: 14].”‎ [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, dan selainnya dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albany dalamShahih Al-Jami’ dan Syaikh  Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad.]‎
Kesembilan: Istighfar Adalah Salah Satu Bekal bagi Seseorang yang Berdakwah di Jalan Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi ‎shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ.
“Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar, serta beristighfarlah terhadap dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada petang dan pagi.” [Ghafir: 55]
Kesepuluh: Sebab Terkabulkannya Doa adalah Istighfar
Nabi Shalih ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ.
“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sembahan (yang hak) bagi kalian, kecuali Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian sebagai pemakmur (bumi) itu maka beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku amatlah dekat lagi mengabulkan (doa hamba-Nya).” [Hud: 61]
Kesebelas: dengan Istighfar, Seorang Hamba Akan Semakin Mengagungkan dan Membesarkan Rabb-Nya
Telah berlalu penjelasan keagungan istighfar karena digandengkan dengan tauhid dalam sejumlah ayat, juga telah berlalu penyebutan nama-nama dan sifat pengampunan Allah. Tidak diragukan bahwa dua makna tersebut sangatlah menanamkan pengagungan dan pembesaran dalam hati seorang hamba kepada Rabb-nya.‎
Dari Zaid bin Haritsah –maula Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam- berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ
“Siapa yang membaca Asataghfirullaah Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka akan diampuni dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, al-Thabrani, Al-Hakim dan Ibnu Abi Syaibah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah di Shahih Abi Dawud dan Shahih al-Tirmidzi)
Terdapat tambahan dalam sebagian riwayat seperti dalam Sunan Al-Tirmidzi & al-Hakim-, “Astaghfirullah Al-‘Adzim”.
Tempat Khusus Membacanya?
Telah datang beberapa riwayat yang menerangkan tempat khusus untuk membaca doa istighfar ini, seperti sesudah shalat, bangun tidur, dan di pagi hari Jum’at. Namun tak satupun dari keterangan-keterangan tersebut yang shahih sehingga tidak bisa diamalkan dengan kekhususannya tersebut.
Ada hadits yang berstatus maqbul –sebagian ulama menghasankannya dan sebagian lain menshahihkannya- menyebutkan istighfar tersebut tanpa mengaitkannya dengan waktu-waktu tertentu. Bisa dibaca pada waktu yang bebas tanpa mengkhususkannya dengan waktu dan tempat.
Al-Hakim mengeluarkannya dalam Mustadraknya dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثًا غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَارًّا مِنْ الزَّحْفِ
“Siapa yang membaca Asataghfirullaah Alladzii Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (HR. Al-Hakim, beliau berkata: “ini adalah hadits shahih sesuai syarat Muslim namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 8541. Abu Nu’aim meriwayatkan yang serupa dalam Akhbar Ashbahan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)
Keutamaannya
Doa ini mengandung istighfar (permohonan ampunan) yang sangat agung dan memakai wasilah (sarana) yang sangat mulia dengan menyebut nama-nama Allah yang Maha Indah –Allah, Al-Adzim, Al-Hayyu, dan Al-Qayyum-, ikrar akan uluhiyah Allah dan tekad bertaubat saat itu juga.
Astaghfirullah memiliki makna meminta ampunan kepada Allah, memohon agar Allah menutupi dosa-dosanya, dan tidak menghukumnya atas dosa-dosa tersebut.
Disebut kalimat tauhid setelah kalimat “Aku meminta ampun kepada Allah” memberikan makna bahwa hamba tersebut mengakui kewajibannya untuk ibadah kepada Allah semata yang itu menjadi hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ini menuntut agar orang yang beristighfar untuk membuktikan ubudiyahnya kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Al-Hayyul Qayyum: dua nama Allah yang agung ini disebut sesudahnya memiliki kaitan dengan permintaan ampunan karena semua nama Allah dan sifat-Nya yang Maha tinggi yang Dzatiyah dan Fi’liyah kembali kepada keduanya. Sifat Dzatiyah merujuk kepada nama Al-Hayyu (Maha hidup kekal). Sedangkan sifat fi’liyah kembali kepada nama Al-Qayyum (Tegak berdiri sendiri dan mengurusi semua makhluk-Nya)
Ditutup doa tersebut dengan Waatubu Ilaihi (Aku bertaubat kepada-Nya) mengandung keinginan kuat dari hamba untuk bertaubat (kembali) kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Karenanya jika hamba mengucapkan kalimat ini hendaknya ia jujur dalam melafadzkannya pada dzahir & batinnya. Jika ia dusta, dikhawatirkan ia tertimpa kemurkaan Allah. (Lihat al-Fuuthaat al-Rabbaniyah: 3/701)
Allah siapkan balasan terbaik untuknya, yakni ampunan untuknya sehingga dihapuskan dosa-dosanya, ditutupi aib-aibnya, dilapangkan rizkinya, dijaga fisiknya, dipelihara hartanya, mendapat kucuran barakah, semakin meningkat kualitas agamanya, menjapatkan jaminan keamanan di dunia dan akhirat, dan mendapat keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dosa yang akan diampuni dengan doa istighfar ini bukan hanya dosa-dosa kecil, tapi juga dosa besar. Bahkan dosa yang terkategori min akbaril dzunub (dosa paling besar), yaitu lari dari medan perang, “. . . walaupun ia pernah lari dari medan perang.”
Lari dari medan perang adalah lari meninggalkan medan jihad fi sabilillah saat berkecamuk peperangan melawan orang kafir. Ini menunjukkan bahwa melalui doa istighfar yang agung ini Allah akan mengampuni dosa-dosa terbesar yang tidak memiliki konsekuensi hukuman jiwa dan harta seperti lari dari medan perang dan dosa-dosa semisalnya. 
Jika hamba mengucapkan doa di atas dengan ikhlash, jujur, memahami makna-maknanya; niscaya ia akan mendapatkan kabar gembira maghfirah yang agung ini.
Istighfar Bulan Rajab 
Tidak ada dalil yang shahih tentang keutamaan mengkhususkan istighfar dalam bulan rajab sementara hadits dari ‘Ali secara marfu’ :
أكثروا من الاستغفار في شهر رجب، فإن الله في كل ساعة منه عتقاء من النار.
“Perbanyaklah istighfar di bulan Rajab, karena Allah setiap saat membebaskan dari neraka di bulan itu”.
[Dikeluarkan Ad-Dailami di (Al-Firdaus) 1/81 no. 247 dan di dalamnya ada Asbagh bin Tsubatah. Dan dia matruk yang diisyaratkan di ucapannya penulis. Lihat (Tadzkirah Al-Maudhu’at) 116 & (Tanzih Asy-Syari’ah) 2/333.] ‎Demikian di (Adz-Dzail) dan di dalam isnadnya ada orang yang matruk.
Dan sungguh aku mendengar sebagian para syaikh banyak beristighfar di bulan ini, dengan membaca :
أَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَا الْـجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ مِنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ وَالْآثَامِ.
“Aku mohon ampun kepada Allah yang memiliki keagungan & kemuliaan dari segala dosa”.
 Kemudian aku melihat Al-Manufi berkata : Sungguh pengarang kitab Targhib Al-Muthalib fi Asyraf Al-Mathalib telah memberikan manfaat, bahwa dia berpendapat dengan tulisan Al-Hafidz Kamaludin  Ad-Damiri : Dari Ibnu Abbas secara marfu’ : “Barangsiapa di bulan Rajab & Sya’ban membaca :
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْـحَيَّ الْقَيُّوْمَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِـمٍ لِنَفْسِهِ، لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا، سَبْعَ مَرَّاتٍ، أَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَى الْـمَلَكَيْنِ الْـمُوَكَّلَيْنِ بِهِ:  أَنْ خَرِّقا صَحِيْفَةَ ذُنُوْبِهِ.
“Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung yang tiada Ilah selain Dia Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri mengurus makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya dengan taubat seorang hamba yang mendholimi dirinya sendiri yang tidak dapat menahan kematian, kehidupan dan hari kiamat, sebanyak tujuh kali maka Allah akan mewahyukan kepada dua malaikat yang mewakili degan berfirman : “Bakarlah catatan/lembaran dosa-dosanya”.
Dan hadits ini adalah dhaif sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama ahli hadits.
Dan di dalam Al-Mukhtas :
رَجَب شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَان شَهْرِي، وَرَمَضَان شَهْرُ أُمَّتِيْ.
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku & Ramadhan adalah bulan umatku”.
[Dikeluarkan Ad-Dailami di (Al-Firdaus) 2/275, Ibnu Al-Jauzi di (Al-Maudhu’at) 2/124 & Abdul Aziz Al-Kinani di Fadhlu Rajab. Dan hadits ini  maudhu’ sebagaimana dikatakan Al-Hafidz Ibnu Hajar di(Tabyin Al-‘Ajab) no. 18 dan Ibnu Al-Jauzi, dan Pengarang kitab Al-Asrar Al-Marfu’ah hal. 438. dan telah datang hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri, sebagaimana menurut Abi Al-Khathab di dalam(Adau ma wajaba fi fadhli Rajab), sebagaimana perkataan Abu Syamah  di dalam (Al-Ba’its) hal. 72-dengan tahqiq kami, dan Ibnu Nasir di dalam (Amali nya), sebagaimana di dalam (Tabyin Al-‘Ajab) no.7 dan Al-Hakim di (Tarikhnya),sebagaimana di Tanzih Asy-Syari’ah 2/164. Dan isnadnya murakab maka ia dha’if sebagaimana di dalam (Al-Fawaid Al-Majmu’ah) 47, 48, 100, 439. dan lihat (Al-Laliu Al-Masnu’ah) 2/114. dan datang pula hadits mursal hasan, sebagaimana di dalam (Amali Abi Al-Fatah Ibnu Abi Al-Fawaris,sebagaimana berkata pengarang no. 4, dan demikian pula di (Al-Asrar Al-Marfu’ah) hal. 438, dan dia menjelskan dengan menukil dari (Al-Jami’ Ash-Shaghir) no. 3094 – dho’ifnya.]‎
               Adapun hadits : “Rasulullah khutbah jum’at sebelum datang bulan Rajab:

أَيُّهَا النَّاس ! قَدْ أَظُلُّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، رَجَبٌ شَهرُ اللهِ الْأَصَمُّ، تُضَاعَفُ فِيْهِ الْـحَسَانَاتِ، وَتُسْتَجَابُ (فِيْهِ) الدَّعْوَاتِ، وَيَفْرِجُ فِيْهِ (عَنِ) الْكُرَبَاتِ.
“Wahai manusia ! sungguh bulan yang agung menaungi kalian, Rajab bulan Allah, dilipatgandakan amal kebaikan di dalamnya, dikabulkan do’a & dilapangkan berbagai kesusahan…[Dikeluarkan Abdul Aziz Al-Kinani di dalamFadhlu Rajab, sebagaimana di Tabyin Al-‘Ajab no. 23 & Tanzih Asy-Syari’ah 2/163-164 : maudhu’ & isnadnya majhul & di Al- Fawaid Al-Majmu’ah hal.439 : Hadits munkar.]
Masih ada sisa dalih bagi orang-orang yang berpuasa rajab mengkhususkan Istighfar di bulan Rajab, bahwa mengamalkan hadits dhaif dalam keutamaan amal dibolehkan karena para ulama ahli hadits dan ahli ilmu, bersikap toleran dalam mendatangkan hadits-hadits dho’if dalam masalah keutamaan amal”.‎
Sesunguhnya ulama ahli hadits toleran dalam mengamalkan hadits-hadits dho’if dalam keutamaan amal dengan beberapa syarat, diantaranya yang paling penting adalah hendaknya harus dijelaskan sisi kelemahannya dan hadits tersebut tidak maudhu’, supaya orang yang mengamalkannya tidak membuat syariat baru Seperti hadits puasa rajab, sebagaimana dikatakan Ibnu Qayyim, Fairuz Abadi, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Al-Hafidz Abdullah Al-Anshari, Ibnu Hammat Ad-Dimasqi dan Ibnu Rajab di dalam Lathaiful Ma’arif hal. 123-127, dan Abu Hafs Al-Mushuli di dalam Al-Mughni ‘anilhifdzi wal kitab hal. 371 dan disetujui oleh teman kami Abu Ishaq Al-Huwaini di dalam kritikannya Junnatul Murtab, dan selain mereka.
Sebagian ulama ahli hadist menyatakan bahwasanya hadist yang Dho’if itu boleh diamalkan, boleh dijalankan dan boleh dipraktekkan dengan beberepa syarat yaitu bukan dipraktekkan sebagai hukum, sebab hukum hanya diambil dari hadist Shahih dan hadist Hasan. Hadist Dho’if boleh dipraktekkan dalam perkara fadha’ilal amal. yaitu amal ibadah yang bila kita kerjakan maka akan mendapat pahala dari Allah Swt. Maka kita kerjakanlah amal ibadah tersebut demi untuk meraih pahala yang tidak terdapat Halal-Haram di dalamnya namun hanya anjuran untuk mengerjakannya. kata para ulama silahkan mengerjakannya.
Istighfar pun bagian dari agama. Dinyatakan dalam hadist-hadist yang Shahih. Di bulan suci Rajab juga dianjurkan untuk banyak beristighfar kepada Allah Swt dengan mengambil hadist Dho’if tersebut sebagai fadha’ilal amal, tidak dilarang oleh para ulama sebab seorang mukmin itu haus akan kebaikan, haus akan pahala dan kita pun demikian dan tidak ada orang yang bisa membatasi karunianya Allah.
Kita berdo’a setiap hari sebanyak 70 kali memohon kepada Allah “Rabbigfirli warhamni Watub’alayya” Ya Allah ampuni saya, Rahmati saya, terima taubat saya. Terkadang kita merasa heran ada beberapa orang jika kita beristighfar 70 kali sehabis Isya dan Subuh  di bulan Rajab dikatakan “ini Bid’ah, kullu bid’atin dholalah wa kullu dholalatin finnaar”. Mungkin dia berbicara seperti itu karena dia tidak punya dosa, kalau kita banyak dosa, dia suci dari dosa mungkin, dan kita beristighfar kepada Allah bukan hanya bulan Rajab, dzikir kita bukan hanya di bulan Rajab, setiap waktupun kita berdzikir kepada Allah, namun secara khusus bulan Rajab, guru-guru kita mengajarkan kita demikian. ‎
Bulan Rajab adalah bulan pengampunan Allah, bulan baik, bulan yang besar anugerah dari Allah Swt dan tidak ada larangan mengkhususkan istighfar di bulan Rajab. Kamu tidak bisa megharamkan sesuatu berdasarkan hawa nafsu mu, tidak bisa seperti itu sebab agama ini bukan milik mu namun agama ini milik Rasulullah Saw. kalian yang tidak mau istighfar, jangan mengganggu orang yang ingin beristighfar. Hargailah mereka yang punya dalil, untuk melakukan amalan di bulan Rajab.
Di bulan suci Rajab ini bulan diterimanya perintah shalat oleh Rasulullah SAW dari Allah Swt, baguskan sholat kita, perintahkan sanak keluarga kita untuk sholat 5 waktu berjamaah di Masjid. Selain itu, bulan Rajab adalah bulan pembacaan kitab Shohih Bukhari dimana tempat mengharap ridho Allah, keberkahan dari Allah, pertolongan dari Allah bahkan untuk seluruh umat Islam, sebab ketika pembacaan kita shohih Bukhari itu pintu langit dibuka oleh Allah, do’a diijabah oleh Allah, kita minta kepada Allah semoga hajat-hajat kita diijabah dan dikabulkan oleh Allah Swt lebih dari apa yang kita harapkan, Amiin.‎
Yang menjadi masalah jika kamu memaksakan“Saya tidak suka Istighfar Rajab, yang lain tidak boleh istighfar, yang istighfar dia bid’ah masuk ke dalam neraka”. Kalau Kamu tidak mau istighfar yah silahkan. Kami tidak memaksa hanya kami ingin beristighfar dan jangan mengganggu kami, hargai dan hormati.
Kita saling sayang saling menghormati satu sama lain inilah agama kita mengajarkan “ laa yukallifullahu nafsan illa wus‘aha” dalam ayat yang lain Allah Swt  mengatakan “ Laa iqraha fiddini” tidak ada paksaan dalam beragama islam. Ini agama luas. Syariat nabi Muhammad Saw untuk setiap zaman, setiap waktu, setiao tempat, setiap generasi dan setiap keadaan beda-beda, tidak semua sama. Alhamdulillah. Mudah-mudahan hati kita dibersihkan oleh Allah Swt.  Masalah sebenarnya adalah penyakit hati dan ini yang perlu dibersihkan. Sikap fanatik yang berlebihan itu yang mesti dibuang. Mudah-mudahan kita dibimbing oleh Allah Swt.‎
Bacaan istighfar Rajab ‎yang cukup panjang dan  lihat teks Arabnya di bawah ini.
 
بسم الله الرحمن الرحيم. استغفرالله العظيم ۳. الذي لا اله الا هو الحي القيوم واتوب اليه من جميع المعاصي والذنوب واتوب اليه من جميع ماكره الله قولا وفعلا وسمعا وبصرا وحاضرا. اللهم اني استغفرك لما قدمت وما اخرت وما اسرفت وما اسررت ومااعلنت وماانت اعلم به مني انت المقدم وانت المؤخر وانت على كل شئ قدير. اللهم اني استغفرك من كل ذنب تبت اليك منه ثم عدت فيه واستغفرك بمااردت به وجهك الكريم فخالطته بما ليس لك به رضى واستغفرك بما وعدتك به نفسي ثم اخلفتك واستغفرك بماد عالي اليه الهوى من قبل الرخص ممااشتبه علي وهو عندك محظور واستغفرك من النعم التي انعمت بهاعلي فصرفتها وتقويت بهاعلى المعاصى واستغفرك من الذنوب التي لايغفرها غيرك ولايطلع عليها احد سواك ولايسعها الارحمتك وحلمك ولاينجي منها الاعفوك واستغفرك من كل يمين حلفت بها فحنثت فيهاوانا عندك مأخوذ بها واستغفرك يالااله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين. واستغفرك يا لا اله الا انت عالم الغيب والشهادة من كل سيئة عملتها في بياض النهار وسواد الليل في ملأ و خلأ وسر وعلانية وانت الي ناظر اذا ارتكبتها ترى ما اتيته من العصيان به عمدا او خطأ او نسيانا يا حليم ياكريم واستغفرك يا لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين. رب اغفرلي وارحمني وتب علي وانت خير الراحمين واستغفرك من كل فريضة وجبت علي في اناء الليل واطراف النهار فتركتها عمدا او خطأ او نسيانا او تهاونا وانا مسؤل بها ومن كل سنة من سنن سيد المرسلين وخاتم النبيين محمد صلى الله عليه وسلم فتركتها غفلة او سهوا او جهلا او تهاونا قلت او كثرت وانا عائد بها واستغفرك يالا اله الا انت وحدك لا شريك لك سبحانك رب العالمين لك الملك ولك الحمد ولك الشكر وانت حسبنا ونعم الوكيل نعم المولى و نعم النصير ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم وصلى الله على سيدنا محمد واله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمدلله رب العالمين
Bacaan latin istighfar diatas‎
Bismillahirrahmaanirrahiim. Astaghfirullaahal’adzim 3x.  Alladzi laa ilaaha ilaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi, min jamii’il ma’aashii wadzunuubi wa atuubu ilaihi, min jamii’i maa karihallaahu qaulaw wa fi’law wasam’aw wa bashharaw wa haadiiran. Allahumma innii astaghfiruka limaa qoddamtu wa maa akhkhortu wa maa asraftu wamaa asrortu wa maa a’lantu wamaa anta a’lamu bihii minni antal muqoddimu wa antal mu’akhiru wa anta ‘alaa kulli syai-in qodiir. Allahumma innii astaghfiruka min kulli dzanbin tubtu ilaika minhu tsumma udtu fiihi wa astaghfiruka bimaa aradtu bihii wajhakal kariima fa khaalathuhuu bi maa laisa laka bihii ridlaw wa astaghfiruka bimaa wa’adtuka bihii nafsii tsumma akhlaftuka wa astaghfiruka bimaada ‘aalii ilaihil hawaa min qoblir rukhashi mim masytabaha ‘alayya wa huwa ‘indaka mahzhuuruw wa astaghfiruka minan ni’amil latii an ‘amta bihaa ‘alal ma’aashii wa astaghfiruka minadz dzunuubillatii laa yaghfiruhaa ghairuka wa laa yath-thali’u ‘alaihaa ahadun siwaaka wa laa yasa’uhaa illaa rahmatuka wa hilmuka wa laa yunjii minhaa illaa ‘afwuka wa astaghfiruka min kulli yamiinin halaftu bihaa fa hanats-tu fiihaa wa ana ‘indaka ma’khuudzun bihaa wa astaghfiruka yaa laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin. Wastaghfiruka yaa laa ilaaha illa anta ‘aalimul ghaibi wasy syahaadati min kulli sayyi-atin ‘amiltuhaa fii bayaadlin nahaari wa sawaadil laili fii mala-iw wa khala-iw wa sirriw wa’alaaniyatiw wa anta ilayya naazhirun idzartakabtuhaa taraa maa aataituhuu minal’ishyaani bihii ‘amdan au khathaa-an au nisyaanay yaa haliimu yaa kariimu wa astaghfiruka yaa laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiina. Rabbigh firlii warhamnii wa tub’alayya wa anta khairur raahimiina wa astaghfiruka min kulli fariidlatil wajabat ‘alayya fii anaa-illaili wa athraafin nahaari fa taraktuhaa ‘amdan au khata-an au nisyaanan au tahaawunaw wa ana mas-uulum bihaa wa min kulli sunnatim min sunani sayyidil mursaliina wa khaatamin nabiyyiina muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama fa taraktuhaa ghaflatan au sahwan au jahlan au tahaawunan au katsurat wa ana ‘aa-idum bihaa wa astaghfiruka yaa laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariika laka subhaanaka rabbil ‘aalamiina lakal mulku wa lakal hamdu wa lakasyukru wa anta hasbunaa wa ni’mal wakiilu ni’mal maulaa wa ni’mannashiiru wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil’ aliyyil’azhiimi wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadiw wa aalihi wa shahbihii wasallama tasliiman katsiiraw wal hamdu lillaahi rabbil’aalamiin. 
Terjemahan istighfar diatas
Dengan Menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang ‎
Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung 3x yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya dari segala maksiat dan dosa. Aku bertaubat kepada-Nya dari segala yang Allah benci, baik berupa perkataan, perbuatan, pendengaran, penglihatan, maupun perasaan. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampun terhadap apa-apa (dosa-dosa) yang telah lalu maupun yang kemudian, baik (dosa yang aku perbuat) keterlaluan, (dosa) yang aku sembunyikan, (dosa yang aku perbuat) secara terang-terangan, maupun apa-apa (dosa-dosa) yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Maha Pemula, Engkaulah Yang Maha Akhir, dan hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Ya Allah sesungguhnya aku memohon ampun kepada-Mu dari setiap dosa, aku bertaubat kepada-Mu dari dosa yang aku lakukan lagi. Aku memohon ampun kepadamu terhadap apa-apa yang aku maksudkan untuk berbakti kepada-Mu, Yang Maha Mulia, namun tercemari oleh apa-apa yang tidak Engkau ridhoi. Aku memohon ampun kepada-Mu atas apa-apa yang telah aku janjikan kepada-Mu kemudian aku khilaf kepada-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau serukan kepadaku, namun aku menyepelekannya. Aku mohon ampun kepada-Mu dari segala nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku namun aku menyalahgunakannya dijalan maksiat. Aku memohon ampun kepada-Mu dari segala dosa yang tidak ada yang dapat mengampuninya selain-Mu, dan janganlah memperlihatkannya kepada seorangpun selain-Mu, dan tidak ada yang dapat melapangkannya kecuali rahmat-Mu dan kesantunan-Mu, serta tidak ada yang dapat selamat darinya kecuali ampunan-Mu. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjunan kita, Nabi Muhammad saw., juga keluarganya, para sahabatnya dengan keselamatan yang banyak. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar