Minggu, 26 Juni 2016

Penjelasan Tentang Mukasyafah


Istilah mukasyafah apabila dilihat dari segi kebahasaan maka ia memiliki arti terbuka tirai. Adapun dari segi istilah mukasyafah memiliki beberapa definisi sesuai dengan pendapat masing-masing dari ulama. Diantara definisi tentang mukasyafah adalah sebagai berikut:
عِلْمُ المُكَاشَفَةِ وَهُوَ نُوْرٌ يَظْهَرُ فِي القَلْبِ عِنْدَ تَزْكِيَةٍ فَتَظْهَرُ بِهِ المَعَانِي المُجْمَلَة فَتَحْصُلُ لَهُ المَعْرِفَةُ بِا للهِ تَعَالَي وَاَسْمَائِهِ وَ صِفَاتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتَنْكَشِفُ لَهُ الأَسْتَارُ عَنْ مُخْبِئَاتِ الأَسْرَارِ
Artinya:
"Ilmu Mukasyafah merupakan cahaya atau nur yang tampak nyata dalam qalbu ketika pemberishannya, maka tampaklah di dalam qalbu tersebut al-ma'ani al-mujmalah atau makna-makna yang menyeluruh yang merupakan hasil dari makrifatullah, asma'Nya, shifat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan terbukalah baginya segala penutup dari segala rahasia-rahasi yang tersembunyi."
Adapula yang menjelaskan sebagai berikut:
اِعْلَمْ اَنَّ عِلْمَ المُكَاشَفَةِ هُوَ العِلْمُ بِا للهِ عَزَّ وَجَلَّ الدَّالُ عَلَيْهِ الرَّادُّ اِلَيْهِ الشَّاهِدُ بِالتَّوْحِيْدِ لَهُ مِنْ عِلْم ِالإِيْمَانِ وَاليَقِيْنِ وَعِلْمِ المَعْرِفَةِ وَذَلِكَ غاَيَةُ العُلُوْمِ كُلِّهَا وَاِلَيْهِ تَنْتَهِي هِمَمُ العَارِفِيْنَ لَا يُوْجَدْ وَرَاءَهُ مَرْمَي الإِنْظَارِ
Artinya:
"Ketahuilah, sesungguhnya ilmu mukasyafah merupakan ilmu dengan Allah azza wa jalla yang menunjukkan sesuatu pemberian orang yang musyahadah dengan ketauhidan yang dimilikinya berdasarkan ilmu keyakinan, iman dan ilmu makrifat. Ilmu mukasyafah adalah puncak segala ilmu, dan ke sana pulalah titik akhir cita-cita orang yang arif. Tidak ada lagi batas pandang sesudah itu."
Ada pula yang menjelaskan sebagai berikut:
وَهَذَا هُوَ العِلْمُ الخَفِيُّ الَّذِي اَرَادَهُ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِهِ: اِنَّ مِنَ العِلْمِ كَهَيْئَةِ المَكْنُوْنِ لَا يَعْرِفُهُ اِلَّا اَهْلَ المَعْرِفَةِ بِاللهِ فَإِذَا نَطَقُوْا بِهِ لَمْ يُجْهِلْهُ اِلَّا اَهْلَ الإِغْتِرَارِ
Artinya:
"Sehubungan dengan hal ini, ilmu mukasyafah adalh ilmu yang teramat halus dan tersembunyi yang dimaksudkan oleh kanjeng rasul MUhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya, "Sesungguhnya ilmu itu laksana barang berharga yang tersimpan. Tak seorang pun yang dapat memahaminya kecuali golongan arif billah. Maka ketika mereka berbicara di daamnya tidak ada yang menyepelekannya kecuali golongan orang ightirar atau berhati lalai."
Dari keterangan di atas, sebatas kalimat terakhir yang perlu digarisbawahi adalah bahwa ketika mukasyafah itu telah menancap dalam diri seorang hamba, maka terbukalah segala  hijab dari segala rahasia-rahasia yang tersembunyi. Hal ini mengisyaratkan bahwa dengan ilmu mukasyafah semua apa yang sebelumnya tersembunyi dan terselubung dalam sebuah rahasia akan nampak jelas dipandang mata. Dengan demikian, ketika seorang hamba telah mencapai pada tingkat mukasyafah ini, maka baginya tidak ada lagi sebuah rahasia yang menyelimuti dalam hatinya. Dengan ilmu mukasyafah ini pula, seseorang akan mengetahui segala rahasia yang ada sebab tidak lagi ada batas pandang yang sanggup dicapai oleh ilmu-ilmu lain selain ilmu mukasyafah. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwasanya ilmu mukasyafah merupakan puncak dari segala ilmu yang ada di dunia ini.
Sebagai suatu ilmu, ilmu mukasyafh sesungguhnya tidak bisa disamakan atas disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain, terutama dengan ilmu eksask yang sering kali menandaskan kajiannya pada prinsip obyktif-nasionalis, sistematis dan empiris. Ilmu mukasyafah lain dengan ilmu-ilmu tersebut, hingga imam al-Ghazali menyebut ilmu mukasyafh ini dengan sebutan fauqa thuril 'aqli atau di atas puncak akal. Sementara itu ilmu-ilmu yang lain hanya pada batas sesuatu yang dapat digapai oleh akal. Ilmu mukasyafah hanya bisa didapat melalui nur dari Allah Yang Maha Kuasa Atas Segalanya.
Ilmu mukasyafah ini merupakan nikmat yang sangat besar sekali yang membuat hati para hamba Allah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan spiritual yang sangat hebat. Dalam kitab Tafsir Qurthubi dijelaskan sebagai berikut:
فَيُكْشَف ُالحِجَابُ فَيَنْظُرُوا اِلَيْهِ فَوَ اللهِ ماَ اَعْطَاهُمُ اللهُ شَيْئًا اَحَبَّ اِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ وَلَا اَقَرُّ لِأَعْيُنِهِمْ
Artinya:
"Maka terbukalah hijab penutup, maka mereka melihat kepadaNya. Kemudian demi Allah, tidaklah Allah memberikan kepada mereka sesuatu yang lebih mereka cintai dari nadzar atau penglihatan tersebut dan tidak ada yang lebih menyenangkan bagi pandangan matanya dari hal tersebut."
Adapaun dalil dan bukti bahwa ilmu tersebut bisa diperoleh oleh hamba yang taat dan bersih adalah:
Ayat al-Qur'an surat an-Nisa' :113 tentang Nabi Muhammad yang menerima ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum dan hal ghaib. 
وَعَلَّمَكَ مَالَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ
"Dan (Allah) telah mengajari dirimu ilmu yang engkau tidak menegtahuinya"
Ayat al-Qur'an surat Yusuf : 68 tentang Nabi Ya'qub yang menerima ilham dari Allah: 
وَإِنَّهُ لَذُوْعِلْمٍ لِمَاعَلَّمْناَهُ
"Sungguh Dia (Ya'qub) adalah orang yang mempunyai ilmu, karena Kami telah mengajarinya" Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya: 

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَدْ كَانَ يَكُونُ فِي الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْهُمْ قَالَ ابْنُ وَهْبٍ تَفْسِيرُ مُحَدَّثُونَ مُلْهَمُونَ
“Dari Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau bersabda: ‘Di dalam umat-umat sebelum kalian ada para muhaddatsun, maka jika ada satu dari umatku yang termasuk di dalamnya, maka sesungguhnya ‘Umar bin Khaththab adalah salah satu dari mereka.
’ Ibnu Wahb mengatakan: ‘Tafsir Muhaddatsun adalah orang-orang yang diberi ilham.”
Hadits ini mengantarkan kepada satu pemahaman bahwa ilmu ilham bisa didapatkan oleh selain Nabi Khidhir, seperti Sayyidina ‘Umar dan lain-lain. Hadits Rasulallah riwayat at-Tirmidzi dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulallah bersabda: "Aku melihat Allah, azza wa jalla menempelkan telapak-Nya di antara bahuku, kemudian aku merasakan dinginnya jari-jari-Nya di antara putingku dan kemudian tajalli-lahsetiap sesuatu kepadaku dan aku mengetahuinya sehingga aku dapat mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan apa yang terjadi antara tanah timur (masyriq) dan tanah barat (maghrib)" hadits ini di shahih-kan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain. 
Hadits Riwayat Ibnul Jauzi dalam Manaqib Umar tentang Sayyidina Umar yang mengatahui tentaranya yang sedang berperang padahal beliau sedang berkhuthbah. Hadits ini hasan sebagaimana di katakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar.
Riwayat tentang Sayyidana Abu Bakar yang pernah menebak kandungan istrinya bahwa bayinya laki-laki. Dan itu ternyata benar adanya. Hadits riwayat Abu Nu’iam al-Ashfahani dalam Hilyah al-Auliya’ dari Anas : 
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَثَهُ اللهُ تَعَالَى عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Siapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan memberinya ilmu yang dia tidak ketahui.” ( Ash-Shawi dalam Hasyiyah Tafsir al-Jalalain 1/182 menisbatkan ucapan tersebut kepada Imam Malik ) Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang hadits ini dan beliau menjawab, "Sesuai apa yang dikatakan oleh Izzuddin bin Abdissalam bahwa sesungguhnya orang yang mau mengamalkan apa yang dia ketahui baik wajib syar’i, atau sunah atau menjauhi makruh dan haram, maka Allah akan memberinya ilmu ilahi yang sebelumnya dia tidak mengetahuinya" ( Fatawi Haditsiyyah hlm. 203-204, Darul Fikr. )
Ucapan Ali al-Kisa’i

قَالَ الدَّمِيرِيُّ : وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ الَّتِي سَأَلَ عَنْهَا أَبُو يُوسُفَ الْكِسَائِيُّ لَمَّا ادَّعَى أَنَّ مَنْ تَبَحَّرَ فِي عِلْمٍ اهْتَدَى بِهِ إلَى سَائِرِ الْعُلُومِ ، فَقَالَ لَهُ : أَنْتَ إمَامٌ فِي النَّحْوِ وَالْأَدَبِ فَهَلْ تَهْتَدِي إلَى الْفِقْهِ ؟ فَقَالَ : سَلْ مَا شِئْتَ ، فَقَالَ : لَوْ سَجَدَ سُجُودَ السَّهْوِ ثَلاَثًا هَلْ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْجُدَ ؟ قَالَ : لاَ ؛ لِأَنَّ الْمُصَغَّرَ لاَ يُصَغَّرُ 
“Ad-Damiri berkata: ‘Masalah ini adalah masalah yang pernah ditanyakan oleh Abu Yusuf (Hanafiyyah) kepada Ali al-Kisa’i ketika al-Kisa’i pernah mendakwahkan bahwa siapa yang dalam satu ilmu luas layaknya samudera maka dia akan bisa pada ilmu-ilmu yang lain. Abu Yusuf bertanya: ‘Anda adalah imam dalam bidang nahwu dan sastra, apakah Anda bisa fiqh juga? Al-Kisa’i menjawab: ‘Tanyalah yang Anda suka!’ Kemudian Abu Yusuf bertanya: ‘Andai ada orang yang sudah melakukan sujud sahwi tiga kali, apakah dia wajib bersujud untuk kedua kali?’ Al-Kisa’i menjawab: ‘Tidak, karena sesuatu yang sudah diperkecil (tashghir) tidak boleh diperkecil lagi.” ( Disebutkan dalam kitab-kitab Fiqh Syafi’iyyah dalam bab sujud sahwi. ) 
Ucapan al-Kisa’i tersebut menunjukkan bahwa siapa yang dalam satu disiplin ilmu agama luas bak samudera, maka dia akan mendapat ilmu laduni dengan bisa menguasai ilmu-ilmu yang lain.
Kisah yang diceritakan oleh al-Habib Abdullah Alawi al-Haddad tentang seseorang yang semula bodoh kemudian menjadi alim lewat ilmu wahb dan ilmu ilahi (ilmu laduni) di bidang ushuluddin dan cabang-cabangnya. Mereka adalah Sa‘id bin ‘Isa al-Amudi, Ahmad ash-Shayyad, Ali al-Ahdal dan Abul Ghaits. 
Dengan keterangan-keterangan ini pernyataan dan syubhat-syubhat mereka yang tidak pernah di dukung dalil sudah terbantahkan.
Lebih lengkap tentang dalil-dalil ilmu laduni yang dapat di peroleh selain Nabi Khidhir, lihat Fatawi Haditsiyyah halaman 222 dan Majmu' Fatawi wa Rasail halaman 202 pembahasan tentang ilham.
Dalam Al-Hikam Syaikh Ahmad bin Muhammad Athaillah memberikan nasihat sebagai berikut:
اِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالٍ مَعَهاَ اِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ اِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ اَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَالأَعْمَالُ اَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ وَ اَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّا هُوَمُوْرِدُهُ عَلَيْكَ
Artinya: "Apabila Allah telah membukakan pintu makrifat untuk seorang hamba, karena dengan makrifat Allah itu, engkau tidak perlu kepada amalanmu yang memang sedikit itu. Karena Allah telah membuka makrifat untukmu itu berarti Allah brkehendak memberi anugerahNya kepadamu, sedangkan amal-amal yang engkau lakukan adalah semacam pemberian ketaatan kepadaNya. Kalau demikian, maka di manakah letaknya perbandingan antara ketaatan seorang hamba dengan anugerah yang diterima dari Allah."
Makrifat kepada Allah adalah tujuan yang dijangkau oleh seorang hamba, dan cita-cita yang diharapkan. Apabila seorang hamba menghadap Allah karena telah dibukakan baginya pintu makrifat, maka ia akan mendapatkan ketenangan dalam makrifat itu, karena di dalamnya akan dijumpai kenikmatan ruhani yang berlimpah-limpah. Senantiasa akan berlimpah kepadanya pula hasrta memperbanyak amal ibadah, disebabkan begitu banyak keutamaan yang diberikan Allah kepadanya.
Dengan makrifat itu seorang hamba akan semakin dekat kepada Allah karena ia dapat memandang Allah dengan makrifatnya itu. Dimaksud makrifat adalah melihat seorang hamba dengan mata hati sanubarinya (bashirahnya).
Hamba Allah yang dekat kepada Allah, ia akan mampu mengenal Allah dengan baik, karena makrifat menurut arti harfiyahnya sama dengan mengenal. Maksud dekat dengan Allah serta mengenal akan sifat-sifat Allah serta beriman sepenuhnya dengan sifat-sifat yang mulia itu. Dalam ibadahnya seorang hamba yang bermakrifat kepada Allah dengan pengertian di atas, berarti ia benar-benar sanggup mengenal Allah. Dengan mata hatinya yang bersinar ia mendekati Allah untuk mendapatkan rahmat dan kasih sayangnya.
Makrifat bagi seorang hamba diperlukan dalam beribadah dan beramal, sebab dengan demikian ia akan sampai kepada tingkat hamba yang haqqul yaqiin, karena mengetahui bahwa Allah itu ada, adalah menjadi kewajiban imam seorang hamba. ia baru berada dalam tingkat ilmul yaqin. Ketika seorang hamba mengenal Allah dengan baik menurut ilmu Allah sendiri, maka ia telah berada pada tingkat ainul yaqin, dan ketika pengenalannya dengan Allah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan, dalam tingkat makrifat, maka ia telah berada dalam keadaan haqqul yaqiin.
Makrifat kepada Allah dalam tiga tahap ini adalah tugas yang harus dimiliki oleh si hamba dari waktu ke waktu dalam upayanya menyempurnakan iman serta ibadahya kepada Allah.
Kedudukan makrifat tidak boleh bertentangan dengan akidah dan syariat, yang bersumber kepada quran dan sunnah rasulullah Shallallaahu 'Alaihin wa Sallam. Hamba yang bermakrifat kepada Allah tidak berarti ia mengurangi ibadah dan amalnya, justru semakin tinggi makrifat seorang hamba, makin banyak pula amal ibadahnya dan makin sempurna pula amal keshalihannya. Hamba yang shalih dan sempurna kemakrifatannya, adalah orang yang kokoh imannya dan tekun ibadahnya, sebab antara iman dan amal shalih tidak dapat dipisahkan dalam ibadah islam. Allah berfirman dalam Al-Quran, "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putus." (Q.S. At-Tiin: 6).
Makrifat kepada Allah menurut akidah dan syariat hendaklah berdasarkan iman dan amal shalih. Walaupun pahala bagi seorang hamba yang makrifat bukanlah tujuan, sebab yang menjadi tujuan dan yang dicarinya ialah ridha Allah, sebagai anugerah yang sangat berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar