Selasa, 28 Juni 2016

Penjelasan Tentang Ridho

Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً)
 
“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah  sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya”
Kata Ridha berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata rodiya yang berarti senang, suka, rela.  Pengertian ridha juga ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah Swt. baik berupa peraturan ( hukum ) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah Swt.
وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ
Artinya:”Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).(QS. At-Taubah:59)
َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ
“Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.”
“Abu Hurairoh juga meriwayatkan, bahwa ada seorang lelaki menghadap Rasulullah SAW. Untuk menayakan siapakah orang yang lebih patut dilakukan persahabatan dengan baik? Maka jawab Rasulullah SAW. Ibumu. Kemudian ia pun bertanya lagi : lalu siapa lagi? Jawab beliau tetap : Ibumu. Lalu ia bertanya lagi: Lalu siapa lagi: Maka kali ini jawab beliau: Ayahmu” ( HR. Bukhari dan Muslim – Riyadhush Shalihin 9/319 )
Hanya Ridho Allah yang Kita cari, dan hanya murka-Nya yang kita Takuti
عائشة رضي الله عنها; أن رسول الله-صلى الله عليه وسلم قال:  " مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ ، بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ ، سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ ".
Artinya: “Barangsiapa mencari keridhoan dari Allah (saja) meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridho kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridho kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhoan dari manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya no.276 (I/497), dari Aisyah. Syuaib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya Hasan”).
Di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ
Artinya: “Barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dengan keridhoan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” (Shahih. HR. Ibnu Hibban no.277 (I/510), dari Aisyah. Dan dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no.6010).
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH DARI HADITS INI:
1) Wajib bagi setiap muslim mencari ridho Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan yang ia lakukan, meskipun manusia membencinya. Hal ini dikarenakan hanya Allah satu-satunya Dzat yang mampu memberikan manfaat dan kebaikan, dan mencegah mudharat dan keburukan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang beramal demi mencari keridhoan Allah meskipun manusia membencinya, maka sungguh ia telah bertakwa kepada-Nya, dan ia adalah hamba-Nya yang sholih, dan Allah senantiasa mencintai dan menolong hamba-hamba-Nya yang sholih."
2) Diharamkan bagi setiap muslim melakukan suatu perbuatan yang dibenci dan dimurkai Allah, apalagi jika ia melakukannya dengan niat dan tujuan mencari kecintaan dan keridhoan manusia.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "Barangsiapa telah jelas baginya bahwa setiap makhluk (manusia) yg ada di muka bumi adalah makhluk (ciptaan Allah, pent). Maka bagaimana mungkin ia lebih mendahulukan ketaatan kepada makhluk daripada ketaatannya kepada (Allah) Tuhannya segala tuhan. Sungguh yang demikian ini adalah sesuatu yang mengherankan. (Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamiid hal.436). 
3) Mencari keridhoan n kecintaan manusia dalam setiap urusan adalah tujuan yg mustahil tercapai. Oleh karena itu, hendaknya kita berkata n beramal hanya mengharapkan keridhoan n balasan dari Allah semata. Tidak mengharapkan sesuatu apapun dari manusia baik berupa pujian, imbalan, popularitas dan ketenaran maupun lainnya.
Hal ini sebagaimana yang bisa kita petik dari do’a salah seorang istri Fir’aun dalam al-Qur’an yang tetap teguh pada keyakinan dan keimanannya kepada Allah. Ia berdo’a agar dibangunkan untuknya “baitan fil jannah” (rumah di dalam surga), bukan “baitan fil ardhi (rumah di muka bumi)” ataukah “prasasti di bumi yang dikenang orang lain”. Dia hanya berharap pada Allah, diselamatkan jiwa, dan keyakinannya dari virus-virus orang zhalim dan kafir. Allah ta’ala berfirman:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam (surga) Firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahriim: 11)
Allah ta'ala berfirman pula:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insaan: 9)
4) Keridhoan dan kebencian manusia bergantung pada keridhoan dan kebencian Allah. Jika Allah meridhoi dan mencintai seorang hamba, maka Dia akan menjadikan para makhluk seperti malaikat dan manusia meridhoi dan mencintainya. Demikian pula sebaliknya.
Hal ini dikarenakan hati para hamba berada diantara 2 jari dari jari-jemari Allah. Dia membolak-balikkan hati mereka kapan saja Dia kehendaki. Sebagaimana dikabarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits beliau.
Dan dikabarkan di dalam hadits, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda (idza ahabballahu 'abdan naadaa Jibriila, faqoola, ya Jibriilu, inni uhibbu fulaanan fa ahibbahu, fa yuhibbuhu Jibriilu...)
Artinya: "Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata; "wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai hamba-Ku si fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril berkumandang (di langit, pent); sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya si fulan, maka cintailah ia. Maka para malaikat penghuni langit mencintainya. Lalu diletakkan rasa ridho (kpd hamba tsb) di muka bumi."
5) Penetapan sifat ridho dan benci bagi Allah ta'ala sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan, menyamakan dan menggambarkan sifat Allah sebagaimana sifat makhluk, dan tanpa menyelewengkan maknanya.
Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syuura: 11).
Maka dari itu, perbuatan-perbuatan baik apapun yang kita lakukan, baik yang hukumnya wajib, sunnah maupun mubah, hendaknya diniatkan semata-mata karena mengharap keridhoan dan balasan dari Allah ta’ala.
Jangan sampai kita melakukan suatu amalan dengan niat dan tujuan supaya dikenang dan dipuji oleh manusia karena akan menyebabkan kebinasaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan imam Muslim di dalam kitab Shahihnya (no.1905) tentang golongan manusia yang pertama kali diadili oleh Allah dan dicampakkan ke dalam api neraka pada hari kiamat, dan mereka adalah orang yang berjihad di jalan Allah, menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, dan orang yang bersedekah, namun mereka mengerjakan ibadah-ibadah yang agung tersebut tanpa ikhlas karena Allah.
Ridho  adalah kata sifat yang mudah diucapkan, namun juga kata kerja yang sulit dilakukan. Ridho  terhadap ketentuan Allah SWT secara mutlak berarti tidak menunjukkan keengganan ataupun penentangan terhadap takdir-Nya, manis atau pahit. Sayyid  Abdullah ibn Alwi ibn Muhammad al-Haddad al-Husaini mengatakan:
“Ridho terhadap ketetapan Allah adalah buah termulya dari Mahabbah dan Ma’rifah. Salah satu ukuran cinta adalah ridho terhadap perbuatan kekasihnya, baik itu manis ataupun pahit adanya. Oleh karenanya,  ridho dengan makna yang demikian adalah suatu keniscayaan untuk menyatakan keimanan seseorang terhadap Tuhan-Nya.
Dalam makna yang lain, Ridho  dimutlakkan sebagai sikap senang dan bahagia bagaimanapun keadaan hidup yang dialami. Sebagaimana ucapan para arif billah, “Ridho  adalah mengeluarkan seluruh ketidaksukaan terhadap ketentuan takdir dari dalam hati, sehingga tak ada padanya kecuali rasa senang dan bahagia terhadap ketentuan itu atau ia adalah kebahagiaan hati dalam merasakan pahitnya takdir sebagaimana merasakan manisnya atau juga ia adalah menerima hukum ilahi dengan senang hati”
Al-Samarkandi dalam “Tanbih al-Ghafilin” mengatakan:
“Keputusan Allah itu jauh lebih baik dari pada ketetapan seseorang terhadap dirinya sendiri,  (Ketahuilah wahai anak cucu Adam), apa yang telah ditetapkan Allah, (namun) kamu benci itu (sesungguhnya) lebih baik dari pada keputusanmu sendiri yang kamu sukai.
Rabi’ah  al-Adawiyah, Seorang sufi wanita, pernah ditanya,” Kapankah seorang hamba menjadi Ridho?”,  Ia menjawab : “Bila ia merasa bahagia oleh keburukan (takdir) sebagaimana ia merasa bahagia oleh kenikmatan”. Sebagian Ulama’ salaf juga mengatakan: Jikalau tubuhku hancur karena sebab penyakit kusta yang menggerogoti dagingku, itu lebih baik dari pada saya harus mengatakan atas ketetapan Tuhan: “Seandainya hal ini tidak terjadi?”. 
Ridho atas ketentuan Allah berarti ikhlas dan nrimo atas semua ketentuan yang Allah berikan, baik itu berupa nikmat maupun  ujian.  Al-Ghazali dalamIhya’ Ulum al-Dien dalam bab al-Qaul fi Ma’na al-Ridho bi Qadhai Allah wa Haqiqatih wa Ma Warada fi Fadhilatih,menjelaskan bahwa Ridho adalah buah dari cinta, Ia merupakanmaqam tertinggi yang dapat mendekatkan diri pada Allah.  Ridho merupakan sababu dawami raf’i al-hijab atau sebab yang dapat melanggengkan untuk menghilangkan hijab (penghalang) dalam mendekatkan diri pada Allah SWT.‎
Pandangan Para Tokoh Tentang Ridho
1.      Al-Fudhoil bin Iyadh : Derajat ridho terhadap Allah setara dengan derajat  Al-Muqorobin (orang-orang yang mendekatkan diri); tidak ada antara mereka dan Allah kecuali ketentraman dan rezeki bala’ bencana dijauhkan dari umat manusia.
2.      Dzun An-Nun Al-Mishri : jika kalian ingin menjadi wali abdal, maka cintailah apa yang menjadi kehendak Allah, dan barangsiapa yang menyukai apa yang menjadi kehendak Allah, maka tidak turun kepadanya segala takdir dan hukum ketentuan Allah sedikit pun kecuali ( ia suka terima dengan suka cita )
3.      Muzhoffar Al-Qirmisini : Barang siapa yang diberi perlindungan Allah ke dekat-Nya, maka ia harus ridho kepada-Nya dengan segala ketentuan takdir yang berlaku padanya, sebab tidak ada sungut kedongkolan (Tasakhuth) di atas hamparan qurbah (Kedekatan ).
4.      Abdul Wahid bin Zaid : Ridho adalah pintu yang teragung, surga dunia, dan tempat istirahat orang-orang ahli ibadah (Mustaraha al-abidin).
5.      Abu Al-Hasan Asy-Syadzili : Ada dua kebaikan yang tidak akan membawa madhorot bersamanya keburukan sebanyak apapun: Ridho menerima Qodho’ ketetapan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah.
6.      Sa’id An-Nabbahi : Andai aku diberi do’a yang mustajab, aku tidak akan memohon surga firdaus, akan tetapi aku hanya ingin memohon keridhoan, sebab ia adalah penyegeraan surga di dunia.
7.      Abu Abdullah Al-Baratsi : Tidak akan menolak kiamat para pemuncak derajat dari kalangan orang-orang yang ridho, maka ia telah mencapai derajat tertinggi.
8.      Diriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata : salah seorang ulama yang tidak disebut namanya pernah di tanya, “Dengan apa gerangan ahli ridho mencapai keridhoan?” Ia menjawab, “Dengan makrifat, dan sesunggunya ridho merupakan salah satu dahan makrifat,”.
Ridho Suami Syurga Bagi Istri 
Dalam bingkai rumah tangga, pasangan suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga istri dan anak-anaknya baik dalam urusan agama atau dunianya, menafkahi mereka dengan memenuhi kebutuhan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam  Al Qur’an Surat An Nisaa’ (34):
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diriketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” 
Tanggungjawab suami yang tidak ringan diatas, diimbangi dengan ketaatan seorang istri pada suaminya.
Kewajiban seorang istri dalam urusan suaminya setahap setelah kewajiban dalam urusan agamanya. Hak suami diatas hak siapapun setelah hak Allah dan Rasul-Nya, termasuk hak kedua orang tua. Mentaatinya dalam perkara yang baik menjadi tanggungjawab terpenting seorang istri.
Suami, Surga atau Neraka Seorang Istri
Seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka. Sebagaimana dalam hadits dari Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Selesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
 
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.”(HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
Dengan demikian Jelaslah bahwa Ketaatan istri pada suami agar suaminya ridho adalah jaminan surganya, seperti dalam hadits Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة »
(رواه إبن ماجه والترمذي)
 
"Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga".  (HR Ibnu Majah, dan di hasankan oleh Imam Tirmidzi). Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya) 1.)
Dengan demikian, Ridho Suami Itu Surga Bagi Para Istri adalah sesuatu yang ada dasarnya seperti dalam ayat Al Qur’an dan hadits-hadits diatas. Namun ketaatan istri pada suami tidaklah mutlak. Jika istri diperintah suami untuk tidak berjilbab, berdandan menor di hadapan pria lain, meninggalkan shalat lima waktu, atau bersetubuh di saat haidh, maka perintah dalam maksiat semacam ini tidak boleh ditaati. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
 
“Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR. Bukhari no. 7145 dan Muslim no. 1840). 
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan,
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ
 
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar